Musim Berebut Kursi : Belajar dari Penumpang Kereta Api dan Bus Kota

Musim Berebut Kursi : Belajar dari Penumpang Kereta Api dan Bus Kota
Photo by Annie Spratt / unsplash.com

Bagi masyarakat di Jabodetabek (Jakarta Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), berebut kursi di moda transportasi publik adalah pemandangan yang lazim, khususnya di kalangan pengguna Kereta Api dan Bus Trans-Jakarta. Siapa sih yang tak ingin duduk manis sembari gulir-gulir gadget kala pagi-pagi buta menuju tempat kerja? Demikian pula saat pulang dari tempat kerja menuju rumah masing-masing.

Jumlah kursi memang selalu terbatas dibandingkan kebutuhan. Ini pula yang membuat betapa duduk itu dirasa lebih berharga daripada berdiri. Berebut kursi di moda transportasi publik adalah kisah sederhana tentang hasrat manusia untuk selalu merasa nyaman. Anehnya, kenyamanan yang tak seberapa itu justru kerap terasa bernilai, saat melihat yang lain tidak kebagian kursi.

Ada suasana hati yang merasuk untuk melakukan klaim bahwa kita lebih berhak untuk duduk ketimbang pihak lain. Alasannya bisa apa pun. Sisi kelangkaan juga kerap membangkitkan andrenalin untuk berkompetisi. Menang adalah situasi yang spesial, hatta sekadar memenangi perebutan kursi Bus Transjakarta.

Pengguna moda transportasi darat semacam bus dan kereta akan tetap sampai tujuan masing-masing. Berdiri atau pun duduk. Jadi, sebenarnya tak ada kasta apa pun di sana. Semua berhak duduk dan semua rela berdiri. Mereka mengejar hal yang lebih penting dari sekadar kenyamaan yang sekelumit itu; sampai di tempat kerja tepat waktu!

Di tahun politik ini, saat orang dari rimba perpolitikan nasional panas-dingin menghitung modal untuk mendapatkan kursi legislatif, kursi bupati, kursi walikota, kursi gubernur, dan kursi presiden, ada baiknya kita kaum jelata membincangkan kursi di moda transportasi publik. Mengapa? Kursi di moda transportasi publik lebih kita pahami dan terjangkau untuk sekadar diperbincangkan, ketimbang kursi incaran para politisi itu.

Berharap pula, para politisi dapat mengambil pelajaran dari kompetisi kita yang terjadi saban pagi dan sore. Tanpa benci, tanpa dengki, tanpa dendam. Agar pemilu nanti damai, sedamai pengguna bus kota dan kereta api, yang ngeloyor pergi tanpa beban, saat tiba di tujuan. Tak penting, siapa yang menggantikan kedudukannya di kursi itu.

Lazim kita dengar, usai rebutan kursi di Pemilu dan Pilkada, banyak politisi yang stres. Kursi yang mereka impi gagal didapat, hutang modal kampanye menggunung. Ada yang merasa dizalimi, ada yang sakit hati, banyak yang tertindih panasnya dendam kesumat. Setiap kali mendengar orang tertawa serasa meledek, setiap melihat orang tersenyum serasa mencibir. Saatnya mengajak para politisi untuk belajar dari perburuan kursi kereta dan bus kota. Agar nestapa dan kecewa tak lagi berulang, menjadi endemi lima tahunan.

Kiat para pemburu kursi kereta dan bus kota terkait rebutan kursi tampaknya perlu disimak baik-baik oleh para politisi, agar tak kecewa dan sakit hati. Pertama, menetapkan tujuan utama. Pengguna kereta dan bus kota umumnya memiliki rumusan tujuan paling mendasar saat menggunakan moda transportasi publik. Umumnya, tujuan mereka adalah: Sampai di tempat tujuan tepat waktu dengan biaya yang terjangkau.

Tujuan utama itu akan membentengi mereka agar tidak terjebak masalah perasaan dan emosi, saat tak kebagian kursi. Bahkan karena sadar pada tujuan utama ini pula, seorang penumpang bus kota atau kereta rela menyedekahkan kursinya pada orang lain yang ia anggap lebih berhak. Meski awalnya ia harus adu kecepatan untuk memenanginya dari penumpang lain.

Kedua, sadar posisi. Jika Anda naik dari Stasiun Lenteng Agung menuju ke arah Jakarta Kota, dengan menumpang KRL dari Bogor pada jam kerja, maka Anda harus sadar posisi. Dapat kursi pada situasi itu bisa masuk dalam kategori “keajaiban dunia”. Anda harus siap mental untuk nggak dapat kursi. Anda hanya berhak sampai di tujuan dengan selamat dan tidak telat sampai di tempat kerja. Sadari posisi, maka insya Allah Anda akan lapang hati dan tak uring-uringan saat tidak kebagian kursi.

Ketiga, Pahami azasnya. Kursi yang tersedia memang terbatas dan boleh digunakan oleh siapa pun. Kursi itu bukan khusus tercipta untukmu. Jangan paksakan kehendak. Siapa pun yang datang lebih awal berhak mendapatkannya.

Keempat, bayar tiket tak berarti dapat kursi. Poin ini juga menjadi kesadaran kolektif para penumpang bus kota dan KRL (Kereta Rel Listrik) di Jabodetabek. Kursi adalah fasilitas yang disediakan tetapi tak harus didapat. Dapat syukur, tidak dapat pun tak terlalu bermasalah.

Nah, bagaimana dengan Anda para politisi?

Pertama, apa tujuan utama Anda ikut kontestasi politik? Jika tujuan utama Anda adalah demi melayani rakyat dan memperbaiki nasib rakyat, mestinya tak perlu stres jika kursi tak didapatkan. Rakyat mungkin lebih percaya pada calon yang lain. Enteng saja, masih ada kesempatan yang lain untuk berbuat baik dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Namun, jika tujuan utama Anda ikut kompetisi di Pemilu memang untuk dapat kursi, sebaiknya Anda beli kursi lain yang lebih pasti. Sofa, misalnya. Anda pasti mendapatkannya begitu Anda melunasi pembayarannya.

Selanjutnya, apa Anda telah sadar posisi? Pertama, posisi sebagai hamba Allah. Jika sadar sebagai hamba-Nya, mestinya Anda tahu, Allah yang menentukan semuanya. Termasuk dalam hal ini adalah introspeksi mendalam tentang kelayakan Anda untuk menjadi salah satu wakil-Nya di muka bumi dalam mengurus urusan orang banyak. Apakah memang telah layak?  Kedua, posisi Anda di tengah orang banyak. Anda berpikir sebagai orang paling baik. Apakah hal yang sama juga dipikirkan oleh orang banyak? Ketiga, sadar posisi Anda di dalam organisasi. Apakah Anda telah menjadi kontributor kebaikan yang utama di partai? Dan seterusnya, sadari posisi diri.

Berikutnya, apakah Anda telah memahami azas dan aturan main dalam kompetisi ini? Jika Anda telah memahaminya, maka mestinya Anda juga paham risikonya. Tak perlu sakit hati, apalagi stres berkepanjangan.

Terakhir, uang yang telah Anda keluarkan, jangan pernah Anda bayangkan apalagi diyakini, sebagai pembelian atas kursi legislatif atau eksekutif. Mungkin uang itu adalah harga belajar yang harus Anda bayar untuk lebih ikhlas dan dekat dengan Tuhan. Mungkin uang itu adalah pembersih diri. Mungkin juga uang itu adalah rezeki hamba Allah yang lain, melalui perantaraan dompet Anda. Siapa yang tahu?

Lapanglah dengan kursi. Selapang penumpang kereta dan bus kota. Insya Allah, musim berburu kursi di 2024 nanti berjalan damai.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.