Perjalanan Hijab di Indonesia: dari Nasida Ria Sampai Fatin Shidqia

Perjalanan Hijab di Indonesia: dari Nasida Ria Sampai Fatin Shidqia

Penulis : Den Xani

Hijab, Jilbab, atau kerudung bukan sekadar gaya berpakaian, namun sebuah identitas perempuan muslim di seluruh dunia dalam mengamalkan ajaran Islam. Namun, perkembangan hijab di Indonesia tidak selalu mulus, seiring perubahan yang terjadi dari masa ke masa. Mulai dari mode kerudung zaman Ibu Fatmawati (orla), Nasida Ria (orba), sampai hijab Fatin Shidqia (pasca reformasi).

Era Orde Lama

Era Orde Lama, mulai awal kemerdekaan Indonesia hingga akhir 1950-an, hijab masih dianggap sebagai bagian dari tradisi dan budaya, tidak begitu dipentingkan. Kebanyakan muslimah cenderung masih mengenakan pakaian terbuka seperti kebaya dan rok panjang. Adapun yang mengenakan hijab masih sebatas menjulurkan kain di kepala saja, seperti yang dikenakan Ibu Fatmawati istri Presiden Soekarno.

Era Orde Baru

Pada era Orde Baru, dimulai dari tahun 1966 hingga tahun 1998, pandangan terhadap hijab berubah. Pemerintah saat itu mengambil tindakan tegas terhadap pakaian muslimah, karena dianggap sebagai bentuk ekstremisme. Untuk foto keperluan ijazah sekolah atau foto KTP pun dipaksa untuk melepas hijabnya. Bahkan sampai dilarang bekerja di sektor publik dan beberapa tempat umum seperti sekolah dan kantor pemerintah.

Namun semakin keras ditentang, semakin keras pula perlawanan. Pada era itu pula, umat Islam di Indonesia mulai menganggap hijab sebagai bentuk identitas keagamaan yang harus dipertahankan. Hal itu terjadi berkat dukungan dari sebagian tokoh muslim, berani memperjuangkan hak-hak muslimah untuk berpakaian menutup aurat sesuai dengan ajaran Islam.

Hijab yang dikenakan grup kasidah Nasida Ria merupakan icon muslimah pada era itu yang muncul di permukaan.

Pasca Reformasi

Reformasi tahun 1998, pandangan terhadap hijab semakin terbuka. Mulai dari anak-anak sekolah, ibu rumah tangga, karyawan kantor, aktris, sampai polwan kini bebas mengenakan hijab. Maraknya buku novel, lagu, sampai film bernafaskan nilai religi, mendukung transfer nilai-nilai Islam untuk diakses masyarakat awam.

Ditambah lagi munculnya gelombang hijrah di kalangan artis, dan fashion desainer muslim seperti Dian Pelangi, menjadikan hijab sebagai bagian dari gaya fashion, populer di kalangan muslimah Indonesia. Berbagai jenis hijab seperti segi empat, pashmina, sampai hijab modis mulai banyak beredar di pasaran.

Kini, bebasnya berhijab patutlah kita syukuri dan harus terus kita rawat agar tidak tercemar oleh virus pemikiran se-pi-lis-kom (sekulerisme, pluralisme, liberalisme, dan komunisme) yang mencoba menggiring umat Islam untuk meninggalkan ajaran agamanya.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.