Secarik Catatan Singgung atas Sapiens

Secarik Catatan Singgung atas Sapiens
Sebuah buku berjudul “Sapiens: A Brief History of Humankind” yang ditulis oleh Yuval Noah Harari / Foto Istimewa

Kehidupan manusia dipenuhi pelbagai ritual komunal. Mulai gaya hidup sekuler hingga lelaku keagamaan atau kepercayaan. Tertanam sifat di dalamnya nilai-nilai, penampakannya bisa menonjol atau tidak terlihat, dan keterlibatan kita dengan ritual komunal tersebut bisa jadi hanya sekilas atau mendalam. Saat ini, ritual komunal memiliki berbagai tujuan. Di antaranya bersatu membentuk koherensi-kooperasi (Whitehouse H., “Modes of Religiosity: a Cognitive Theory of Religious Transmission”, 2004), menyalurkan pandangan keyakinan, mengurangi kecemasan individu atau kelompok, dan berperan dalam transmisi pengetahuan budaya (Kapitány R, Kavanagh C, Whitehouse H, Nielsen M., “Examining Memory for Ritualized Gesture in Complex Causal Sequences”, 2018).

Ritual komunal yang dijalankan oleh manusia saat ini telah tersebar di mana pun. Pertanyaannya, hal apa yang membentuk atau melandasi ritual komunal tersebut mulai dijalankan dari masa lampau?

Pertanyaan itu membawa kita untuk mengenali satu karya yang mungkin mayoritas pernah mendengar. Sebuah buku berjudul “Sapiens: A Brief History of Humankind” yang ditulis oleh Yuval Noah Harari. Karya ini berangkat dari kerangka gagasan Harari yang mulanya membagi sejarah homo sapiens (selanjutnya ditulis “sapiens”) dari Zaman Batu hingga abad ke-21 menjadi empat bagian (Ben Shephard, “Sapiens: A Brief History of Humankind Review: Thrilling Story, Dark Message”, 2014). Pertama, revolusi kognitif atau era awal modernitas perilaku sapiens ketika imajinasi berkembang. Kedua, revolusi pertanian yang terjadi sekitar 11 milenium yang lalu. Ketiga, periode konsolidasi secara bertahap dari organisasi politik hingga globalisasi. Keempat, revolusi ilmiah yang ditandai munculnya ilmu-ilmu obyektif. Pelbagai revolusi ini telah memberdayakan sapiens untuk mencipta-hubungkan ide-ide dan menempatkannya di atas daya seleksi alam.

Sapiens memiliki kapasitas bahasa yang unik, sehingga memungkinkan dia untuk menaklukkan atau mengambil-alih dunia. Dan memang hanya sapiens yang mampu mencapai tingkat komunikasi tersebut. Alhasilnya mampu berbicara tentang hal-hal yang belum pernah dilihat, disentuh, maupun dicium, semisal pemikiran keagamaan, mitos/cerita, dan lainnya (Panasyuk N.V., “Review of The Book by Yuval Noah Harari "Sapiens: A Brief History of Humanity”, 2018). Hal ini lalu memungkinkan sapiens berkolaborasi dalam jumlah yang besar dan cara yang fleksibel, sekaligus membedakan mereka dari makhluk hidup lainnya (Sinta Herindrasti V.L., “Sapiens: A Brief History of Humankind, Story about Human Evolution and Challenges Ahead”, 2019). Menurut Harari, dengan mitos dan kepercayaan yang sama ini, banyak manusia kemudian dapat bekerja sama sehingga bertahan sampai saat ini.

Di kalangan akademis, cerita tersebut dikenal sebagai fiksi, konstruksi sosial, atau realitas imajinasi. Realitas ini tidak menjadi suatu kebohongan, karena seluruh kelompok memercayainya. Realitas di mana sapiens hidup di dalamnya sejak revolusi kognitif, selain realitas fisik (Drew J., “Review of Yuval Noah Harari. Sapiens: A Brief History of Humankind”, 2015). Dengan mengubah mitos/cerita yang disampaikan, maka cara sapiens bekerja sama dapat didorong untuk berubah. Melalui keyakinan yang baru tersebut, sapiens mampu beradaptasi dan menyesuaikan perilakunya dengan segera.

Baca juga: Pendekatan Ulama Klasik dan Modern dalam Metode Memahami Al Qur'an

Di dalam penelitiannya, Harari berfokus pada aspek komunikasi verbal, seperti penciptaan mitos atau semacam realitas imajiner yang mendorong sapiens menjalin kontak tidak hanya dalam kelompok mikro, melainkan juga dalam lingkup makro (Parrish S., “Yuval Noah Harari: Why We Dominate the Earth”, 2014). Kesatuan mitologi ini, bagi Harari, memungkinkan komunitas untuk mempertahankan keragaman budaya guna bersatu dalam jumlah lebih besar (Parrish S., “Yuval Noah Harari on Why Humans Dominate the Earth: Myth-Making”, 2014). Perkumpulan ini membentuk sistem simbolik yang terpadu, kemudian individu-individu di dalamnya mengidentifikasi diri sebagaimana kepercayaan pada realitas imajiner itu.

Lebih lanjut, menurut Harari, mekanisme yang menghasilkan kolaborasi masal antar manusia adalah sama saja. Baik dalam agama maupun dalam hukum. Konsekuensinya, baik agama maupun hak asasi manusia merupakan cerita yang direkayasa. Bukan realitas objektif. (Langa L., “Yuval Noah Harari - “Sapiens: A Brief History of Humankind”, 2021).

Ya, imajinasi yang berlangsung sejak revolusi kognitif hingga saat ini, membentuk sapiens hidup dalam realitas ganda, seperti yang ditulis Harari. “Di satu sisi, realitas objektif (seperti sungai, pepohonan, dan singa); di sisi lain, realitas imajinasi (berupa para dewa, bangsa, dan korporasi). Seiring berjalannya waktu, realitas yang diimajikan menjadi semakin kuat, sehingga saat ini kelangsungan hidup sungai, pepohonan, dan singa bergantung pada ‘kemurahan hati’ entitas yang diimajikan (seperti Amerika Serikat dan Google.)” (Campani G., “Review of Sapiens: A Brief History of Humankind di Yuval Noah Harari”, 2014).

Sapiens telah membangun dunia kedua (realitas imajiner) yang terdiri dari narasi fiksi dan semua sistem kerja sama yang berskala besar, termasuk agama, struktur politik, jaringan perdagangan, dan lembaga hukum, muncul berkat kapasitas kognitif khas sapiens terhadap fiksi. “Mitos-mitos yang mengelilingi kita dan membentuk hidup kita sangat menentukan apa yang kita yakini dan lakukan. Untuk mengubah tatanan yang dibayangkan, pertama-tama Anda harus menemukan kelompok yang percaya pada tatanan yang dibayangkan saat ini. Mitos-mitos baru harus dibangun atau dikembangkan dari mitos-mitos sebelumnya.”. (Clear J., “Review of Sapiens by Yuval Noah Harari”, 2014).

Jika kita kembali ke pertanyaan di paragraf pertama, lalu dijawab dengan perspektif Harari, yakni fiksi, lantas benarkah bahwa posisi agama sebagai landasan ritual komunal adalah sebagaimana yang dibayangkan oleh Harari? Dengan pertanyaan ini, kita mencoba menggali kembali konsep agama.

Baca juga: Harta, Tahta, Wanita: Anugerah atau Petaka?

Kurangnya pengetahuan kita tentang agama dan kepercayaan prasejarah adalah salah satu lubang terbesar dalam pemahaman kita tentang sejarah manusia.”, tulis Harari dalam karyanya “Sapiens: A Brief History of Humankind’.

Kalimat itu dengan kata kunci berupa “agama” dan “kepercayaan” tampak sekaligus menjadi petunjuk bagi kita untuk mampu membedakannya dengan mitos atau narasi fiksi, sehingga tidak jatuh dalam kesimpulan yang menyimpang ihwal agama dan kepercayaan. Selain terdapat sejumlah peneliti yang menyebut bahwa ada kemungkinan agama adalah adaptasi evolusioner dari otak homo sapiens, tetap ada yang memandang bahwa agama bukanlah seperti itu.

Tahun 1966, seorang antropolog, Geertz, mendefinisikan agama sebagai suatu sistem simbol yang bertindak untuk membangun suasana hati dan motivasi dalam diri manusia dengan merumuskan konsep tentang tatanan keberadaan serta membingkai konsepsinya sedemikian rupa. (Clifford Geertz, “Religion as a Cultural System”, 1966). Definisi itu kemudian dicari alternatifnya oleh Lincoln, yang menyatakan bahwa agama adalah sebuah wacana yang perhatiannya melampaui kemanusiaan, temporal, dan kontingen, serta memiliki status transenden; juga seperangkat praktik untuk menghasilkan dunia yang layak termasuk manusia di dalamnya, sebagaimana yang ditentukan oleh wacana keagamaan terkait praktik-praktik tersebut. Pun berarti komunitas yang anggotanya membangun identitas mereka dengan mengacu pada wacana keagamaan dan praktik-praktik yang menyertainya. Sekaligus merupakan sebuah institusi yang mengatur wacana, praktik, dan komunitas keagamaan sembari menegaskan validitas abadi beserta nilai transendennya. (Lincoln B., “Holy Terrors: Thinking about Religion after September 11”, 2006).

Ihwal agama, Nongbri menyederhanakan pandangan Armstrong, bahwa agama adalah keterpaduan antara liturgi, ajaran, kontemplasi, sekaligus eksplorasi/pengalaman lahir-batin. Agama, bagi Nongbri, bukan hanya semacam watak batin dan kepedulian terhadap keselamatan, pun bukan sekadar kebudayaan manusia. (Nongbri B., “Before Religion: A History of a Modern Concept”, 2013).

Jadi, dari argumentasi ketiga tokoh di atas, tampak jelas bahwa agama bukanlah mitos yang disepakati bersama, bukan pula cerita fiksi/imajinasi hasil kemampuan kognitif manusia. Lebih jelas lagi perbedaannya, jika kita komparasikan dengan konsep Islam. Sejarawan agama, Smith, pernah menyatakan, konsep “Islam” disebutkan dalam Al Qur’an sendiri dan umat Islam menggunakannya untuk mengatur sistem kepercayaan mereka.

Baca juga: Tun Dr. Mahathir Mohammad Ajak Umat Islam Bersatu Padu

Bagi Smith, kata “Islam” digunakan dalam tiga arti yang berbeda namun terkait. Pertama, berarti ketundukan individu seorang muslim. Kedua, adalah entitas yang dilembagakan ditandai cita-cita dan realitas praktis dari sistem Islam yang holistik. Ketiga, sebagai sebuah agama yang paling sesuai dengan akal manusia. (Smith W. C., “On Understanding Islam”, 1981).

Smith lebih lanjut menjelaskan, dalam pengertian pertama, “Islam” adalah sebuah infinitif, kata benda verbal, dan tindakan. Keseluruhan eksistensi seorang muslim terhimpun dalam ekspresi antara jiwanya dan alam semesta serta keyakinan maupun takdir akhirnya yang semua itu bergantung pada-Nya. Hal ini menyiratkan keputusan pribadi maupun kebenaran keyakinan pribadi yang harus didasarkan iman. (Smith W. C., “Faith and Belief”, 1979).

Di dalam arti kedua dan ketiga, “Islam” adalah nama suatu agama. Artinya, di tahap ini, umat Islam cenderung menggunakan konsep “Islam” pada posisi kedua (yaitu sebagai cita-cita). Sebaliknya, bagi sebagian yang lain Islam cenderung diletakkan pada posisi ketiga (yaitu sebagai realitas historis-sosiologis), tulis Smith. (Smith W. C., “The Meaning and End of Religion”, 1991).

Selain menyinggung konsepsi agama, Harari juga menyinggung soal korelasinya dengan konsepsi ihwal manusia. Ia katakan, “Tahap lanjutan dalam sejarah manusia tidak hanya melibatkan perubahan biologis dan teknologi, namun juga perubahan kesadaran dan identitas manusia. Perubahan mendasar ini akan mendorong untuk mempertanyakan istilah ‘manusia’. Banyak orang berpikir bahwa pertanyaan yang harus kita ajukan untuk memandu pencarian ilmiah kita adalah, ‘Kita ingin menjadi apa?’ dan ‘Apa yang ingin kita inginkan?’” (Luskin C., “A Scientifically Weak and Ethically Uninspiring Vision of Human Origins: Review of Yuval Noah Harari’s Sapiens”, 2021).

Satu kutipan menarik, mengingatkan kita kembali pada satu ayat dalam Al Qur’an yang kira-kira bermakna demikian: Tuhan sebagai Yang Maha Besar dan Maha Mulia dari sudut pandang umat Islam, menyapa para malaikat untuk memperkenalkan khalifah-Nya. Dengan amanat ini, misi manusia di bumi menjadi lebih jelas, yakni menggenapi karya penciptaan Tuhan di alam semesta. Oleh karenanya, keunggulan pertama manusia adalah ia mewakili Tuhan di bumi. Para malaikat lalu keberatan, “Apakah Engkau ingin menciptakan makhluk pendendam, melakukan kejahatan, dan pertumpahan darah di muka bumi?” Namun, Tuhan menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang tidak kamu ketahui.” Maka, dari sini, Tuhan terlibat dalam penciptaan manusia.

Baca juga: Belajar Agama dari Google dan Medsos

Simbol-simbol yang sarat dengan konotasi antropologis mendalam pun kemudian muncul. Sebab, Tuhan ingin menciptakan khalifah bagi diri-Nya di bumi. Dia harus memilih bahan yang paling berharga dan suci. Akan tetapi, Dia memilih hal yang paling dasar. Disebutkan dalam Al Qur'an, ada tiga referensi bahan untuk menciptakan manusia, yaitu tanah liat (seperti tembikar) dan lumpur. Akhirnya, Tuhan mengembuskan roh-Nya ke dalam lumpur kering tersebut dan manusia pun tercipta.

Dengan kata lain, Tuhan adalah wujud yang paling suci dan agung, sedangkan lumpur melambangkan hal yang paling hina. Artinya, Roh Tuhan adalah “bagian” yang paling suci, mengagungkan, dan paling mulia dari keberadaan-Nya. Oleh sebab itu, dalam menciptakan manusia, Tuhan tidak menggunakan “nafas, darah, atau daging”-Nya. Sebaliknya, Dia meniupkan jiwa-Nya sendiri ke dalam manusia. Jadi, manusia yang terbentuk dari lumpur dan ruh Tuhan merupakan wujud dua dimensi. Manusia terdiri dari dua kontradiksi (lumpur dan roh Tuhan). Arti penting dan keagungan manusia terletak pada pilihan ke mana harus pergi, menuju lumpur atau roh Tuhan, dan selama dia belum memilih salah satu kutub sebagai takdirnya, maka perjuangan manusia akan terus berlangsung pada dirinya. (Shariati A., “Man and Islam”, 1981).

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.