Sikapi Perang di Timur Tengah, Ulama Dunia Sebut Agresi AS-Israel ke Iran sebagai Kezaliman

Amerika Serikat (AS) bersama Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke wilayah Republik Islam Iran, pada 28 Februari 2026 malam. Serangan itu mencakup serangan udara dan rudal terkoordinasi ke berbagai target strategis, termasuk fasilitas pemerintahan dan militer di ibu kota Teheran dan kota lainnya. Serangan tersebut turut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dan sejumlah tokoh penting Iran.

Menanggapi eskalasi serangan AS dan Israel ke wilayah Iran, para ulama dunia mengeluarkan pernyataan sikap. Isinya di antaranya, mereka menyebut perang yang dilancarkan oleh Amerika dan sekutu Zionisnya adalah murni kezaliman. Berikut ini adalah pernyataan sikap ulama dunia tersebut selengkapnya:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, para ulama, dai, dan aktivis Islam mengeluarkan pernyataan ini sebagai respons dan sikap atas eskalasi konflik yang kian berbahaya dan ketegangan besar yang nyata, di mana serangan udara telah menghantam ibu kota negara-negara di kawasan. Pernyataan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral dan agama para ulama untuk menyuarakan kebenaran kepada umat.

Dubes Iran: Mayoritas Korban Serangan AS Adalah Pelajar Sekolah
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyebut serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026 sebagai bentuk agresi terang-terangan yang melanggar hukum internasional dan prinsip dasar kemanusiaan.

Maka kami, para ulama, dai, dan penggerak Islam, menyatakan hal-hal berikut:

Pertama: Realitas dan Tujuan Perang Ini

Perang yang dilancarkan oleh Amerika dan sekutu Zionisnya adalah murni kezaliman. Iran tidak pernah menzalimi atau menyerang mereka. Sebaliknya, tindakan AS-Israel adalah bentuk agresi nyata dan pola lama penjajahan seperti saat mereka menginvasi Afghanistan, Irak, dan wilayah lainnya, yang dengan jelas melanggar hukum dan larangan agama. 

Perang ini murni merupakan perangnya Salibis-Zionis yang secara strategis menargetkan jantung dunia Islam. Mulai dari tempat-tempat suci, potensi umat, kekayaan, hingga bobot demografis, sejarah, serta peradaban Islam.

Perang ini bukan sekadar konflik akibat perselisihan politik sesaat antara Iran dengan AS-Israel, melainkan salah satu rangkaian dari mata rantai peperangan dan bagian dari sejarah konflik yang panjang.

Kedua: Hikmah Ilahi dalam Peristiwa Ini

Terlepas dari penafsiran atau analisis apa pun atas tragedi yang terjadi, seorang mukmin harus meyakini adanya hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa. Boleh jadi Allah Swt mempersiapkan kekacauan ini untuk suatu momentum besar dan akhir yang baik jika umat Islam mampu menyikapinya dengan benar dan menunaikan kewajiban mereka. 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu” (QS Al-Baqarah: 216).

Kesadaran akan takdir ilahi dan hal-hal gaib ini tidak boleh menjadikan kita abai terhadap kewajiban syar'i tentang fiqih waqi’ dan bekerja sesuai tuntutan keadaan.

Selat Hormuz Ditutup Iran, Indonesia Bertaruh pada Stok BBM 20 Hari
Dengan garis pantai yang panjang menghadap Teluk Persia dan Teluk Oman, Iran memegang kartu yang secara historis selalu menjadi momok dalam setiap eskalasi konflik, yaitu Selat Hormuz.

Ketiga: Kecaman dan Penolakan terhadap Agresi

Pengeboman terhadap fasilitas sipil dan militer oleh Amerika dan entitas Zionis yang kita tidak tahu di mana akan berakhir adalah bentuk tirani yang mengabaikan semua norma internasional. Tingkah mereka telah mengesampingkan seluruh hukum agama, nilai-nilai kemanusiaan, dan hukum internasional, yang selama ini selalu mereka elu-elukan.

Setidaknya, tugas paling mendasar kita dalam situasi ini adalah mengutuk agresi ini dan tidak membenarkan segala bentuk kejahatan tersebut.

Kami memandang bahwa serangan Zionis terhadap Iran merupakan bentuk penistaan terhadap negeri muslim yang memiliki kehormatan, terlepas dari siapa pemerintahnya.

Sebagaimana kami menolak agresi terhadap Iran, kami juga menolak keras serangan Iran ke negara-negara Teluk. Jikalau Iran memfokuskan serangan pada pangkalan-pangkalan asing yang ada di beberapa wilayah, tentu itu akan menjadi kabar gembira bagi banyak mukmin. 

AS yang sengaja menempatkan pangkalan militer di negara-negara Teluk untuk memprovokasi Iran untuk menyerangnya dan membuat negeri Islam membalasnya adalah upaya yang menguntungkan kepentingan musuh utama. 

Padahal para ulama dan dai telah memberikan peringatan sejak awal.

Keempat: Keharaman Berpartisipasi dalam Perang Ini

Segala bentuk dukungan atau bantuan terhadap perang (AS-Israel) ini merupakan bagian dari partisipasi dalam mewujudkan tujuan jahat musuh terhadap Islam. Adalah sebuah ironi bahwa pangkalan militer Barat yang didirikan dengan dalih keamanan, justru menjadi penyebab pengeboman yang menimpa ibu kota negara-negara di kawasan saat ini.

Menanti Sikap Tegas Indonesia Usai Serangan AS-Israel ke Iran
Penting ditegaskan bahwa Iran adalah pihak yang diserang. Kegagalan perundingan tak pernah jadi legitimasi otomatis untuk pemberlakuan agresi bersenjata. Bahkan, laporan dari mediator kawasan menunjukkan adanya kemajuan dalam dialog sebelum serangan terjadi.

Kelima: Kewajiban Saat Ini

Sangat disayangkan bahwa perang yang juga melibatkan negeri-negeri muslim ini adalah perebutan para pemilik kepentingan tanpa adanya kepentingan Islam di dalamnya. Kondisi memprihatinkan ini menuntut para cendekiawan dan tokoh agama untuk:

  1. Kembali kepada prinsip-prinsip agama dan persatuan serta menghindari perpecahan.
  2. Senantiasa bersandar kepada Allah melalui taubat, istighfar, doa, dan berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah untuk mendapat keteguhan dan kesabaran di atas kebenaran.

Ya Allah, tetapkanlah urusan yang lurus bagi umat ini dan jagalah negeri-negeri muslim.

Daftar Penandatangan:

  1. Syekh Ash-Shadiq Al-Ghariani, Mufti Agung Libya
  2. Syekh Muhammad Al-Hasan ad-Dadu, Ketua Pusat Pelatihan Ulama Mauritania
  3. Syekh Al-Hasan al-Kattani, Ketua Ikatan Ulama Maroko-Arab
  4. Syekh Mahfudz Walad al-Walid, Ketua Forum Islam
  5. Syekh Muhammad Ash-Shaghir, Ketua Hai'ah al-Anshar
  6. Dr. Jamal Abdussattar, Ketua Ikatan Ulama Ahlussunnah
  7. Syekh Sami Al-Sa'idi, Sekretaris Jenderal Dar al-Ifta Libya
  8. Syekh Abdul Hayy Yusuf, Dekan Akademi Anshar al-Nabi ﷺ
  9. Syekh Jamal Al-Ahmar, Profesor Universitas Aljazair
  10. Syekh Muhammad Sidya bin Ajdud, Wakil Ketua Ikatan Ulama Muslim
  11. Syekh Burhan Said, Ketua Ikatan Ulama Eritrea
  12. Syekh Belkhair Al-Idrisi, Dosen Universitas Oran, Aljazair
  13. Syekh Al-Bashir Issam Al-Marrakushi, Profesor Perguruan Tinggi di Maroko
  14. Syekh Abdullah bin Amin, Sekretaris Jenderal Forum Islam Mauritania
  15. Syekh Ahmad Al-Syinqiti, Asisten Sekretaris Jenderal Ikatan Ulama Maroko-Arab
  16. Syekh Sulaiman Al-Ahmar – Profesor Perguruan Tinggi Aljazair
  17. Syekh Faraj Kindi, Da'i Islam, Libya
  18. Syekh Husain Abdul Aal, Ketua Hai'ah Ummah Wahidah
  19. Dr. Hatem Abdul Azim, Dosen Fikih Islam dan Ushul Fikih
  20. Dr. Omar Bamba – Direktur Eksekutif Persatuan Ulama Afrika
  21. Dr. Al-Syarif Hamzah al-Kattani, Ulama Maroko
  22. Syekh Saad Razika, Imam, khatib, dosen, dan konsultan keluarga di Amerika Serikat
  23. Dr. Mahmoud Said Al-Shajrawi, Ketua Yayasan FAZ untuk Pendidikan dan Dukungan Psikologis
  24. Syekh Wajih Saad Hassan, Anggota Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS), Italia
  25. Dr. Fahmi Salim, Anggota Persatuan Ulama Muslim, Indonesia
  26. Syekh Ahmad Al-Hassan, Kesultanan Oman
  27. Dr. Marwan Abu Ras, Ketua Komite Al-Quds dan Palestina di Persatuan Ulama Muslim
  28. Dr. Nawaf Takruri, Ketua Ikatan Ulama Palestina
  29. Syekh Imad Al-Mubayid, Pengawas Umum Yayasan Persatuan Da'i di Inggris
  30. Dr. Osama Abu Bakar, Anggota Ikatan Ulama Yordania
  31. Dr. Muhammad Zaidan, Amerika Serikat