Tiga Sistem yang Membuat Dunia Modern Sangat Materialistis

Tiga Sistem yang Membuat Dunia Modern Sangat Materialistis
Photo by Jules D. on Unsplash

Kita hidup di dunia modern, yang penuh dengan persaingan global yang kejam dan sangat materialistis. Semuanya diukur dengan uang dan kesuksesan finansial. Bahkan, dunia ini mengukur kebenaran suatu agama dari hal-hal tersebut.

Tentu saja yang kita rasakan di hari ini bukan hasil sistem yang dibangun sehari dua hari saja. Yang kita rasakan hari ini sistemnya bahkan sudah mulai ditanam sejak 500 tahun yang lalu. Sistem-sistem apa saja yang sudah ditanam itu sehingga berdampak terhadap kehidupan kita sekarang ini?

Sistem Pendidikan Ala Prusia

Di zaman dahulu, sekolah tidak diatur-atur sampai sebegitu ribetnya, sampai Prusia (Jerman di abad 18-19) menjadi negara yang pertama kali menerapkan wajib sekolah kurang lebih 8-9 tahun, dengan sistem semi militer. Diinisiasi oleh raja seorang pendidik bernama Hecker. Ia meletakkan sistem pendidikan yang wajib diikuti rakyat demi mencetak cepat operator-operator yang dibutuhkan untuk negara dalam bidang sains (untuk kepentingan militer), memiliki skill administrasi (untuk administrasi kolonial), dan skill militer untuk ketersediaan tentara. Sebab, pada waktu itu Prusia sedang terdampak konflik-konflik di Eropa, salah satunya Perang Napoleon.

Di sinilah pertama kalinya ada aturan siswa wajib datang ke kelas, ujian nasional, serta aturan-aturan sekolah yang ketat seperti di militer dan lain-lain. Sistem ini lalu diadaptasi di seluruh dunia dan bermetamorfosis karena dinilai mampu mencetak manusia siap pakai di dunia kerja.

Yang menjadi masalah adalah, sistem ini terlalu mengekang siswa seolah-olah wajib militer. Siswa seolah sekadar seperti bahan mentah yang masuk pabrik untuk diolah cepat menjadi bahan siap pakai yang lalu digunakan untuk bekerja dan menghasilkan uang bagi industri. Negara-negara modern tentu tidak keberatan dengan sistem ini, malah menggelontorkan dana untuk mendukung sistem ini karena membuat industri bergerak cepat dan menghasilkan pendapatan nasional. Tetapi sistem ini gagal mencetak siswa yang punya visi besar, kritis, dan idealis, karena memang hanya dituntut untuk menjadi “operator”.

Baca juga: Bahasa Rakyat Adalah “Bahasa Beras”

Sistem Kerja ala Victoria

Victoria adalah Ratu Inggris yang di masanya terjadi Revolusi Industri di Inggris (abad ke-19) yang lalu mengubah dunia sampai detik ini. Industri di Inggris tumbuh luar biasa serta menghasilkan keuntungan bagi dunia industri dan negara. Inggris di masa ini pun menjelma menjadi negara adidaya karena pendapatan nasional dari Industri.

Tetapi dampak Revolusi Industri ini yang paling nyata adalah ketidak adilan bagi para pekerja. Para pekerja begitu tertindas oleh para Kapitalis. Para pekerja diperlakukan tidak manusiawi, dimana terjadi praktik manusia dipekerjakan 12-16 jam sehari seperti mesin, dengan bayaran yang rendah.

Dampak lainnya adalah, jurang kesenjangan sosial yang semakin lebar. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin tertindas. Korupsi merebak, kejahatan meningkat, polusi alam, dan lain sebagainya.

Seiring waktu, aktivis-aktivis yang memperjuangkan hak pekerja kemudian memprotes hal ini. Dan jam kerja lantas dikurangi menjadi 8 jam sehari. Tetapi, Revolusi Industri dan Budaya Kapitalisme ini terlanjur menular ke negara-negara di luar Eropa dan terus dipakai sampai hari ini.

Negara-negara dunia menilai, Kapitalisme ini dapat memacu produksi industri, ekspor impor yang pada akhirnya mendatangkan pendapatan nasional. Maka, negara-negara di dunia seolah menutup telinga dari jeritan para pekerja/buruh.

Baca juga: Iman di Atas Statistik dan Angka-Angka

Kita lihat contohnya di Tiongkok (Cina). Di balik melesatnya ekonomi Tiongkok, ada perbudakan modern bernama “Budaya 996” (bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, selama 6 hari). Di Korea pun ada tren Gwarosa. Yaitu kerja keras sampai mati. Sama dengan Korea, di Jepang juga ada budaya seperti itu dengan nama Karoshi.

Agama Ala Sekulerisme

Dimulai di era Renaisans sekitar abad ke-15, sekularisme mulai berkembang di Eropa. Ketika itu, orang-orang Eropa mulai meninggalkan hukum-hukum agama, lalu memisahkan agama dari hukum dan politik serta kehidupan sosial. Agama hanya boleh di ranah ritual, spiritual, dan budaya. Pemahaman ini kemudian dibawa ke negara-negara jajahan Eropa.

Sekularisme kemudian berkembang di sekolah-sekolah wajib Eropa yang telah memakai sistem pendidikan Prusia. Dan kemudian, Sekularisme menyebar bak wabah di seluruh dunia lewat sekolah-sekolah buatan penjajah. Ditambah lagi ketika masuk masa Revolusi Industri, orang-orang semakin abai dengan nilai-nilai agama dan moral. Para Kapitalis hanya mementingkan keuntungan dan para buruh hanya fokus bertahan hidup di kejamnya perkotaan. Agama dikesampingkan demi industri agar insan-insan industri tidak peduli aturan agama dan fokus pada meningkatkan pendapatan industri.

Penutup

Tiga sistem itulah yang membentuk perilaku manusia di seluruh dunia menjadi materialistis. Dan membuat agama menjadi tidak dilirik di mata mereka karena dianggap membuat mundur. Padahal, Islam sudah memberikan way of life supaya kehidupan manusia balance (seimbang), bukan hanya di tingkat pribadi, tetapi juga di tingkat sosial bahkan peradaban.

Maka, sudah saatnya kita sebagai aktivis dakwah untuk mulai menerapkan aturan-aturan Islam. Dimulai dari kita dan orang terdekat kita, untuk mengubah sistem-sistem yang sudah mendarah daging ini.

Wallahu a'lam bishowab.



Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.