Barokah : "Mantan Budak Perempuan yang Melahirkan Panglima Perang"

Barokah : "Mantan Budak Perempuan yang Melahirkan Panglima Perang"

“Innaha bakiatul ahli” (sesungguhnya ia adalah kaum keluargaku yang masih tersisa), ucap Muhammad, Rasulullah setiap kali melihat wanita itu. Beliau bahkan kerap juga memanggil wanita itu dengan “ya Umma” (ya, Ibu). Siapa gerangan wanita yang Rasulullah beribukan padanya dan menganggap ia sebagai sisa keluarganya yang masih hidup. Ialah Barokah, yang nantinya dikenal juga dengan nama Ummu Aiman. Ia seorang Budak yang telah mampu mengambil alih figur seorang Ibu bagi Muhammad sepeninggal ibunda Siti Aminah. Ia tak ubahnya seperti ibu kedua, pengganti ibu bagi Muhammad ketika kecil yang sudah ditinggalkan ibundanya sejak usia enam tahun.

Kelembutan, kehangatan kasih sayang seorang ibu yang masih sangat dibutuhkan Muhammad kecil didapatkannya pada diri Barokah yang merawat, mengasuh dan mendidiknya dengan tulus. Singkat kata, semua fungsi keibuan bagi Muhammad telah diambil alih dengan begitu baik oleh seorang wanita budak bersahaja yang penuh berkah.

Kehidupan Barokah memang penuh dengan keberkahan. Bahwa ia ditakdirkan menjadi “Umma” bagi orang utama: Muhammad saja sudah menunjukkan keberkahan dirinya yang luar biasa.

Jaminan Muhammad Rasulullah atas dirinya bahwa ia adalah ahlul jannah juga memperlihatkan betapa berkah hidupnya. Ia ketika itu sudah menjadi Ummu Aiman. Barokah dimerdekakan oleh Muhammad sebagai hadiah ketika Muhammad menikah dengan Khadijah. Kemudian ia menikah dengan Ubayd bin Zaid yang kemudian membuahkan anak: Aiman. Namun pernikahan itu tak berlangsung lama, Karena Ubayd tidak mau masuk Islam ketika Muhammad membawa risalah Islamnya. Padahal Ummu Aiman atau Barokah termasuk orang yang pertama-tama menyatakan keislamannya.

Ketika Ummu Aiman dalam keadaan janda berkunjung ke rumah Muhammad Rasulullah (ia memang sering berkunjung walapun Muhammad sudah berkeluarga), berkatalah Rasulullah: “Barangsiapa ingin menikahi seorang ahlul jannah, hendaklah ia menikah dengan Ummu Aiman”. Pada saat itu di rumah Rasulullah sedang ada pula Zaid bin Haritsah, orang kesayangan Rasulullah. Ia juga seorang duda yang telah bercerai dengan Zainab. Maka tanpa pikir panjang Zaid bin Haritsah pun menikahi Ummu Aiman. Dari pernikahan yang berkah itupun lahirlah Usamah bin Zaid yang nantinya akan menjadi seorang panglima perang.

Kisah hidup Ummu Aiman memang penuh dengan keberkahan. Bahkan kisah perjalanan hijrahnyapun penuh dengan keberkahan yang fantastis, yang sulit dipercayai kecuali dengan iman.

Ketika Ummu Aiman pergi hijrah dalam keadaan shaum. Ia tiba di suatu tempat yang sepi, gersang tak ada air. Padahal di tempat itu waktu maghrib sudah datang dan Ummu Aiman ingin sekali minum air untuk berbuka shaum. Dalam keadaan haus, lelah seperti itu tiba-tiba saja Ummu Aiman melihat sebuah ember berisi air diturunkan dari langit dengan tali putih. Kiranya air itu kiriman dari surga dari Allah yang Rozak. Karena setelah itu Ummu Aiman tak pernah merasa haus lagi walaupun terus melanjutkan perjalanan hijrahnya dalam keadaan shaum, Subhanallah!! Benar-benar ‘hijrah mabrurah’, hijrah yang penuh berkah.

Mengapa wanita bersahaja yang bekas budak itu begitu berkah hidupnya? Jawabannya adalah pasti: Ia menjadi wanita penuh berkah karena ia seorang wanita shalihat (Q.S 4:34). Wanita yang memiliki daya guna yang tinggi. Tidak hanya bagi diri dan keluarganya, tetapi terlebih lagi bagi Islam, bagi dakwah Ilallah, bagi jihad fii sabilillah.

Ia adalah wanita yang beriman dan bertaqwa (termasuk yang pertama-tama masuk Islam). Sehingga dengan keimanan dan ketaqwaannya itu ia mendapatkan keberkahan dari langit dan bumi (Q.S 7:96). Ummu Aiman tetap memilih Allah ketika ia berada dalam dilema antara memilih suaminya Ubayd bin Zaid atau Abu Aiman yang tidak kunjung mau masuk Islam atau memilih Allah dengan risiko dicerai. Ummu Aiman tetap teguh, Istiqomah dengan keimanan yang telah diikrarkannya dan tak akan dicabutnya lagi, hingga akhir hayatnya. Benar-benar wanita shalihat yang qanitat yakni wanita yang tetap taat, istiqomah dengan keimanannya.

Sesungguhnya Islamlah yang telah memberikan kemuliaan pada diri Ummu Aiman. sehingga ketika cucu Ummu Aiman yakni Hasan bin Usamah dihina oleh Ibnu Abu Furod sebagai cucu seorang budak, khalifah Umar bin Abdul Aziz membelanya: “Bagaimana mungkin engkau menghinakan Ummu Aiman sedangkan Rasulullah memanggil ‘Ummu’ padanya”. Ya sesungguhnya satu-satunya patokan untuk menentukan kemuliaan seseorang adalah ketaqwaannya (“Inna aqramakum indallahi atqakum, Q.S 49:13). Tak peduli apakah ia bekas seorang budak atau bukan.

Sejarah membuktikan bahwa ia bukan sekedar seorang bekas budak yang bersahaja, tapi ia seorang mujahidah yang berpikir jauh tentang Islam. Ketika Rasulullah meninggal, betapapun ia sebagai ‘Ibu’ yang merawat dan mengasuh serta mencintainya merasa sangat kehilangan Muhammad SAW. Tetapi ternyata yang terlebih-lebih lagi kesedihannya adalah terhentinya wahyu dari Allah dengan meninggalnya Rasulullah. Jadi ia tidak berpikir terbatas pada skala pribadi, melainkan skala umat. Kehidupan Ummu Aiman yang penuh berkah ditunjukkan juga lewat sumbangnya yang amat besar untuk Islam. Yang paling utama jelas adalah dengan jasanya merawat dan mengasuh Rasulullah, pemimpin Islam.

Selain itu iapun telah menyumbangkan darah syahid suami dan anaknya untuk perjuangan menegakkan Al Haq. Ia ikhlaskan suaminya Zaid bin Haritsah, kesayangan Rasulullah menemui syahid di medan perang Muktah. Suaminya tersebut dengan gagah berani berganti-ganti menjadi panglima perang dan memegang panji Islam dengan Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah. Ketiganya syahid fii sabilillah.

Anaknya dari suami terdahulunya Ubayd bin Zaid yakni Aiman juga syahid dalam perang di jalan Allah. Usamah bin Zaid anaknya dari Zaid bin Haritsah diangkat menjadi panglima perang dalam usia yang sangat belia. Usamah ditunjuk oleh Rasulullah untuk memimpin pasukan Islam ke negeri Syam memerangi tentara Romawi. Pengangkatan Usamah ini sempat memberi peluang bagi kaum munafiqin untuk menyebarkan isu ketidakpuasan dan permusuhan dikalangan umat Islam. Banyak orang yang lebih tua dan berpengalaman kemudian yang merasa lebih pantas untuk menjadi panglima.

Rasulullah yang saat itu sedang sakit menjelang ajalnya memaksakan diri bangkit dengan kepala terikat dan memberikan khutbah di masjid.

“Barangsiapa mencela kepemimpinan Usamah bin Zaid, sesungguhnya iapun mencela kepemimpinan bapaknya. Sungguh bapaknya sangat pantas untuk menjadi pemimpin dan Usamah pun pantas untuk menjadi pemimpin”, sabda Rasulullah.

Rasulullah memang sangat mencintai Zaid bin Hritsah sampai-sampai beliau ditegur Allah (Q.S 33:5) karena menyebutnya Zaid bin Muhammad. Rasulullah pun juga mencintai Usamah seperti Rasulullah pernah memangku cucunya di salah satu paha dan Usamah di paha lainnya sambil berkata: “Allahumma inni uhibbuhumma, faahibahuma” (Ya Allah aku sunggun mencintai keduanya, maka cintailah kiranya keduanya).

Tetapi bukan alasan cinta yang menyebabkan Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid yang masih belia untuk menjadi panglima perang sehingga menimbulkan kegusaran orang-orang yang menganggapnya masih "anak kemarin sore". Buat Rasulullah soal usia tak menjadi masalah yang penting orang tersebut telah memiliki ‘kafaah’ (kemampuan) kriteria pemilihan yang patut dijadikan contoh.

Namun, tak hanya itu sumbangan Ummu Aiman untuk Islam. Ia pun ikut sebagai mujahidah di berbagai perang sepertiPerang Uhud, Khaibar dan Hunain. Ia sibuk memberi minum tentara-tentara Islam yang kehausan dan mengobati yang luka-luka.

Terlepas dari segala sumbangannya yang luar biasa untuk Islam, Ummu Aiman tetap saja seorang wanita bersahaja yang suka tergagap kalau berbicara. Mengucapkan salam saja ia suka tertukar menjadi ‘La salamualaikum’, Ummu Aiman pernah tergagap dan ‘keseleo lidah’ ketika ia bermaksud mendoakan tentara-tentara muslim yang hampir mengalami kekalahan di Perang Hunain. Ia berdo’a: ‘syahabatallahu aqdamakum’ (semoga Allah memotong kaki-kaki kalian) padahal maksudnya adalah ‘tsabatallahu aqdamakum’ (semoga Allah meneguhkan kaki-kaki kalian).

Rasulullah dengan senyumnya menegurnya “Uskuti ya Ummu Aiman, fa ummuk asroul lisaan” (lebih baik diam sajalah engkau ya Ummu Aiman, karena engkau yang gagap). Rasulullah khawatir Ummu Aiman salah lagi, sehingga doa’anya seolah-olah menjadi sumpah serapah.

Rasulullah juga pernah menggoda Ummu Aiman, “Umma” yang disayangnya pula itu. Ketika Ummu Aiman meminta unta pada Rasulullah untuk kendaraan hijrahnya. Rasulullah mengatakan bahwa yang tersedia baginya hanya seekor anak unta. Setelah Ummu Aiman bersikeras bahwa tak mungkin anak unta akan kuat mengangkatnya., barulah Rasulullah tersenyum dan berkata “Unta besar juga anak unta juga ya Ummu Aiman”.

Ummu Aiman memang wanita bersahaja yang seringkali kegagapannya dalam berbicara membuat orang tersenyum. Tetapi ia juga sekaligus wanita istimewa yang hidupnya dikelilingi orang-orang utama yang dicintai Allah. Hidupnya begitu semarak dengan pengorbanan demi pengorbanan untuk Islam.

Ummu Aiman wafat pada awal pemerintahan Usman bin Affan. Benar-benar kehidupan panjang yang penuh berkah.

Penulis: Nidaul Jannah

Disadur dari majalah Sabili Edisi No. 14/I. 20 Muharram 1410 H/ 22 Agustus 1989

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.