Bergabung dengan Board of Peace (BoP) dalam Perspektif Islam

Sebagai agama tauhid, Islam merupakan suatu kesinambungan dengan agama Nabi Ibrahim as yang disebut dalam Al Qur’an, "millata Ibrahima haniyfa". Seperti diketahui, Ibrahim punya dua Putera, Ismail dan Ishak. Ishak memiliki anak bernama Ya’kub yang juga bergelar Israil. Ya’kub punya 12 anak dari empat istri (Lea, Rahel, Bilha, dan Zilpa), yaitu Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakar, Zebulon, Yusuf, dan Benyamin. Semua anak dan keturunan Nabi Ya’kub bergelar Bani Israil yang bermakna keturunan Ya’kub/Israil. Di zaman Nabi Ya’kub, keturunannya diajak menyembah Allah Swt sebagai satu-satunya Tuhan.

Seiring perjalanan masa, Allah utus Muhammad bin Abdullah dari keturunan Ismail sebagai Rasulullah ﷺ dan mengajak semua kaum Bani Israil ikut ajaran yang dibawa Rasulullah sebagai khatamannabiyin dalam agama Islam. Sebagian kaum Bani Israil mengikuti Rasulullah ﷺ, menuhankan Allah, berada dalam agama Islam dan berpedoman kepada Al Qur’an. Namun, sebagian yang lain ingkar, tak mau ikut, karena Nabi Muhammad ﷺ bukan dari keturunan Bani Israil.

Dari sinilah, sebagian kaum Bani Israil yang tidak mau masuk Islam menjadi kafir. Mereka bukan hanya menolak Islam, Rasulullah ﷺ, Al Qur’an, dan berpaling dari Allah Swt, tetapi juga memusuhi Islam dan Rasulullah ﷺ. Permusuhan yang mereka azaskan dulu berlanjut sampai hari ini, sehingga kaum Bani Israil - baik Yahudi maupun Nasrani - tak henti-hentinya berupaya menentang serta menguasai Islam dan umat Islam. Orang-orang Yahudi menganggap umat Islam sama dengan binatang, sedangkan umat Nasrani menyebut umat Islam sebagai domba-domba sesat yang perlu mereka selamatkan atas nama tuhan Yesus.

Seusai Perang Dunia II (PD2), Yahudi dan Nasrani bersekongkol untuk menguasai dunia, karena Khilafah Islamiyah sudah runtuh dan tidak ada lagi kekuatan politik umat Islam secara kenegaraan dan kewilayahan. Tahun 1945, PD2 berakhir dengan mereka sebagai pemenang perang. Mereka lantas mendirikan United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa / PBB) sebagai badan pemerintahan dunia, dan menetapkan lima negara pemenang perang tersebut (Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Uni Soviet/Rusia, dan Cina) menjadi anggota tetap yang memiliki hak veto, selamanya sampai kiamat dunia.

Ulama Pendukung BoP, Saatnya Berikan Pertanggungjawaban Moral!
Serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 bukan sekadar eskalasi regional, tetapi tamparan keras terhadap klaim moral BoP sebagai instrumen perdamaian dunia. Perdamaian versi siapa yang sedang kita dukung jika pemimpin BoP justru jadi aktor utama perang?

Singkat kisah, hari ini dunia sedang berada dalam genggaman mereka. Mereka berusaha mengerdilkan Islam, merusak peradaban Islam, menguasai umat Islam, dan merambah hasil bumi negara-negara muslim. Mereka membuat aturan untuk kepentingan mereka dan menghancurkan tatanan hidup umat Islam, semisal Hak Azasi Manusia (HAM) dalam bidang kemanusiaan, demokrasi dalam perpolitikan, dan gender equity dalam keluarga Islam.

Semua itu diberlakukan adil terhadap sesama mereka, namun tidak adil bagi umat Islam. Tengoklah kasus pembunuhan muslim Palestina, muslim Uyghur di Tiongkok, muslim Rohingya di Myanmar, muslim India, muslim Bosnia di Eropa, dan lainnya, dalam bidang HAM. Juga penolakan atas negara Palestina, pembunuhan Presiden Irak Saddam Husein di tiang gantung pada 30 Desember 2006, pembunuhan Presiden Libya Moammar Ghadafi pada 20 Oktober 2011, kudeta terhadap Presiden Mesir Mohammad Moorsi  pada 3 Juli 2013, kudeta gagal terhadap Presiden Turki Thayyip Erdogan pada 15 Juli 2016, penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026, dan lainnya, dalam bidang demokrasi. Serta perusakan moral anggota keluarga muslim dengan memasukkan konsep gender equity yang menyamakan hak suami dengan istri, membebaskan perempuan pergi keluar sendirian tanpa batas, dan sejenisnya.

Kita kembali ke PBB. Lembaga ini memiliki 6 organ utama sebagai representasi negara-negara di dunia. Pertama, Majelis Umum (General Assembly), yaitu badan permusyawaratan utama yang beranggotakan seluruh 193 negara anggota, masing-masing memiliki satu suara; Kedua, Dewan Keamanan (Security Council), terdiri dari 15 anggota (lima anggota tetap dengan hak veto: AS, Inggris, Prancis, Rusia, Tiongkok, dan sepuluh anggota tidak tetap), bertanggung jawab menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Ketiga, Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC), yang mengoordinasikan pekerjaan ekonomi, sosial, dan pembangunan PBB. Keempat, Dewan Perwalian (Trusteeship Council), yang dibentuk untuk mengawasi wilayah perwalian agar mandiri/merdeka, dan saat ini perannya minim setelah semua wilayah merdeka pada 1994. Kelima, Mahkamah Internasional (International Court of Justice - ICJ), yaitu Badan yudisial utama untuk menyelesaikan sengketa hukum antarnegara, berkedudukan di Den Haag, Belanda. Keenam, Sekretariat (Secretariat), yang menjalankan tugas administratif dan operasional harian PBB, dipimpin Sekretaris Jenderal.

Dengan adanya enam komponen utama dalam pemerintahan dunia tersebut, maka tidak perlu lagi ada badan lain seperti Bord of Peace (BoP) yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sebab, perannya menjadi tumpang tindih dan tidak ada kontrol dalam operasionalnya. Kehadiran BoP justru bisa menjadi malapetaka terhadap dunia Islam sebagaimana yang sedang terjadi hari ini yaitu pelanggaran HAM, perusakan demokrasi, dan penghancuran rumah tangga muslim oleh gender equity. BoP sendiri secara resmi didirikan di sela-sela Forum Ekonomi Dunia ke-56 pada Januari 2026.

Draf Resolusi BoP Bocor! Gaza dalam Bahaya Neo-Kolonialisme
Resolusi BoP menunjukkan pemusatan kekuasaan yang sangat besar pada posisi Ketua Dewan Perdamaian. Sebagai ketua, Donald J. Trump punya kewenangan menentukan pejabat penting, menyetujui kebijakan strategis, hingga mengendalikan Pasukan Stabilisasi Internasional.

Terkait perdamaian dunia, hal itu sudah jelas tertera dalam Piagam PBB. Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB melarang keras penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan dalam hubungan internasional, khususnya terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan politik suatu negara. Pasal ini mewajibkan seluruh anggota menahan diri dari tindakan agresi yang bertentangan dengan tujuan PBB. Maka, perampasan tanah dan pembunuhan muslim Palestina serta penyerangan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sangat bertentangan dengan Piagam PBB.

Amerika Serikat dipimpin Donald Trump dan Israel pimpinan Benjamin Netanyahu melanggar Piagam PBB, ketika mereka bekerjasama menyerang Iran pada Sabtu 28 Februari 2026. Serangan itu mengakibatkan meninggalnya pimpinan tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dan sejumlah petinggi negara Iran serta sejumlah rakyatnya, dan meluluhlantakkan sejumlah bangunan berharga di Tehran. Serangan tersebut terjadi setelah Trump mendirikan BoP atas dasar Resolusi PBB 2803 yang diusulkan pada September 2025. Dengan kasus tersebut, muncul satu pertanyaan: Untuk apa PBB dan untuk apa BoP?

Ketentuan Al Qur'an tentang Bergabung dengan BoP

Berlatarbelakang lahirnya Islam di jagat raya ini sebagai pemenuhan janji Allah dalam kitab-kitab terdahulu sebelum Al Qur’an wujud, agama Islam dinyatakan sebagai satu-satunya agama benar yang diakui Allah di muka bumi ini. Firman Allah:

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS Ali Imran: 19).

Dengan turunnya ayat ini, maka hari ini tidak ada orang beriman yang mengatakan semua agama di bumi adalah sama, apalagi mengatakan semua agama benar. Sebab, Allah telah memilih Islam dan memensohkan agama lain baik agama samawi maupun agama ardhi. Jika ada manusia yang memilih agama selain Islam, maka lihat firman Allah:

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali Imran: 85).

Sebut “Board of Peace” sebagai Neokolonialisme, MUI Desak Pemerintah Evaluasi Setor Dana US$ 1 Miliar
MUI mengritik langkah Pemerintah Indonesia bergabung dalam inisiatif Board of Peace (BoP) bentukan AS. MUI juga merespons keras rencana pemerintah menyetorkan dana kontribusi awal sebesar US$ 1 miliar (sekitar Rp 16 triliun) sebagai syarat keanggotaan dalam BoP.

Islam adalah agama benar satu-satunya di muka bumi ini. Namun, Allah melarang umat Islam memaksa orang lain selain muslim masuk Islam, karena Islam bukan agama teror, bukan agama radikal, bukan agama ekstrem, selaras dengan firman Allah berikut: 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 256). 

Jelas sudah, posisi agama Islam sebagai agama yang suci, murni, bersih, muslihat dan bersahabat. Karena itu pula, Allah melarang hamba-Nya yang beriman untuk menghaduk antara Islam (haq) dengan agama lain (bathil), baik terkait dengan ‘aqidah, syari’ah, maupun akhlak. Firman Allah: 

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah: 42).

Maka, tidak boleh orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Tidak boleh seorang mukmin bekerjasama dengan kafir, baik kafir Yahudi, Nasrani, maupun kafir lainnya, kalau mencecar Aqidah Islam. Sebab, kafir itu tidak akan puas terhadap mukminin sebelum mukminin ikut agama mereka. Firman Allah:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS Al Baqarah: 120).

Bergabung dalam BoP yang oleh Donald Trump diazaskan sebagai pembunuh umat Islam di Palestina dan di Iran merupakan upaya menyenangkan Yahudi dan Nasrani. Hal itu dilarang oleh Allah, penguasa alam. Mengutip pendapat Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: "orang-orang Yahudi dan Nashrani wahai Muhammad tidak akan senang kepadamu dan umatmu selamanya. Karena itu tinggalkanlah upaya membuat mereka senang dan suka kepadamu. Sekarang hadapkanlah dirimu untuk memohon Ridha Allah karena engkau telah mengajak mereka untuk mengikuti perkara hak yang telah diturunkan Allah kepadamu". 

Keterlibatan dalam Board of Peace Ujian Prinsip Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia
Jika Board of Peace terbukti menjauh dari mandat PBB, mengecilkan peran hukum internasional, atau berubah menjadi instrumen politik luar negeri Trump yang bertentangan dengan prinsip politik bebas aktif Indonesia, maka keluar dari forum tersebut adalah pilihan yang sah dan bermartabat.

Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi Ashshiddiqy dalam tafsir An-Nur menjelaskan tentang ayat tersebut bahwa; petunjuk yang benar adalah Islam yang diturunkan oleh Allah kepada para nabi, bukan yang dibuat-buat oleh orang Yahudi dan Nasrani yang telah mengacaukan agamanya lalu mereka menjadi bergolong-golongan yang saling mengkafirkan, mereka melakukan hal tersebut semata-mata karena dorongan hawa nafsunya.

Sayyid Quthb dalam kitab Fi Dhilalil Qur’an mengartikan ayat tersebut sebagai berikut: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani akan memerangimu dan melakukan tipu daya terhadapmu, mereka tidak mau berdamai denganmu dan tidak akan senang kepadamu, kecuali kalau engkau berpaling dan meninggalkan tugas ini, kecuali kalau engkau meninggalkan kebenaran ini, kecuali kalau engkau melepaskan keyakinan ini. Kemudian mengikuti kesesatan, kemusyrikan dan persepsi mereka yang buruk itu".

Ketika mengupas ayat 120 surat Al Baqarah tersebut, Prof. Dr. Hamka dalam tafsir Al-Azhar menguraikan, "segala macam yang menyeleweng dari tauhid bukanlah petunjuk. Petunjuk sejati banyaklah yang datang dari Allah. Dan dengan ayat ini kita telah diberi peringatan bahwasanya lan tardha Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan ridha sebelum kita mengikuti agama mereka. Menurut lughat huruh lan itu berarti nafyi wa istiqbalin, yaitu mereka tidak akan ridha, tidak untuk selama-lamanya".

Sebagai ayat tambahan, untuk memperkuat dalil bahwa Yahudi dan Nasrani akan terus menipu, mengganggu umat Islam, Allah berfirman: 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS Al-Maidah: 51).

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad kepada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus" (Al-Mumthahanah: 1).

Hikmahanto Juwana Ingatkan Pemangku Kepentingan Perlu Evaluasi Piagam Board of Peace
Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana, menilai, ada sejumlah hal yang perlu dikritisi terkait Piagam Board of Peace (BoP). Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menjadi salah satu pemimpin negara yang menandatangani Board of Peace Charter di Davos, Swiss.

Dua ayat terakhir dapat kita pahami dengan gamblang dan tidak perlu didiskusikan lagi, tentang kebohongan, kerusakan, serta kejahatan kafir Yahudi dan Nasrani yang Allah sebut sebagai musuh-Nya dan musuh kita. Jadi bagaimana mungkin seorang muslim yang mukmin berteman dengan musuhnya sendiri dan sekaligus musuh Allah, sedangkan hal itu sangat dilarang oleh Allah Swt?

Bergabung dengan BoP berarti berteman dengan musuh sendiri dan musuh Allah. Bergabung dengan BoP berarti mengambil kafir menjadi pemimpin, yang dilarang Allah dalam surat Al-Maidah ayat 51 dan dalam banyak ayat lainnya. Ketika hal itu dilakukan oleh seorang muslim atau segolongan muslim, berarti mereka telah melawan Allah yang melarang perbuatan tersebut. Melawan Allah bermakna menjadi musyrik atau musyrikin. Na’uzubillah. Maka, umat Islam harus beriman dan beramal saleh, sebagai arena mengharapkan dan mendapatkan kemenangan dari Allah yang telah Allah janjikan:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

 

Kesimpulan

1.       Islam agama suci yang tidak boleh dikotori oleh agama batil dengan cara bagaimana pun juga;

2.       Allah hanya mengakui Islam sebagai agama yang benar dan menolak agama lain yang batil;

3.       Seluruh umat Islam diwajibkan mengamalkan ‘aqidah, syari’ah, akhlak, dan doktrin ajaran Islam secara mandiri dan tidak boleh bercampur dengan Aqidah, syari’ah dan akhlak agama lain;

4.       Allah melarang umat Islam mengangkat dan menjadikan musuh-Nya dan musuh kita (kafir) menjadi pemimpin bagi umat Islam;

5.       Allah tidak akan memberikan perlindungan dan bantuan kepada Muslimin yang mengikuti pemimpin kafir atau bergabung dalam Lembaga yang dicetuskan kafir, apalagi kafir tersebut sudah nyata hari-hari membunuh dan menguasai umat Islam;

6.       Allah sudah memberikan petunjuk dan pedoman kepada Muslimin dalam bentuk Al Qur’an untuk dipelajari, dipahami, dan diamalkan kandungannya;

7.       Bergabung dengan BoP ciptaan pembunuh Muslimin, penegak kerusakan di bumi, sebagai penerus pekerjaan thaghut, hukumnya haram. 

«لا تصاحب إلا من آمن، ولا تأكل طعامك إلا من اتقى» (أبو داود والترمذي).

"Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah yang memakan makananmu kecuali orang bertakwa" (HR Abu Daud & Tirmidzi).

«لا تصاحب إلا المؤمنين، ولا تأكل طعامك إلا المتقين». (أبو داود رقم: 4832، والترمذي رقم: 2395، وصححه الألباني).

"Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah yang memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa" (HR Abu Daud no. 4832, Tirmidzi no. 2395, disahihkan Al-Albani).

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?" (QS An-Nisa: 144).

"Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)" (QS Ali Imran: 28).