Dunia Kerelawanan dan Kelembagaan (Bagian 6): "Suatu Saat Kita Mesti Mengalah Demi Kebaikan"

Dunia Kerelawanan dan Kelembagaan (Bagian 6): "Suatu Saat Kita Mesti Mengalah Demi Kebaikan"
Photo by Tim Marshall on Unsplash

Coba bayangkan sejenakatau kita renungkan sebentar saja, apa dan bagaimana perasaan kita jika kerja-kerja dakwah dan program-program sosial yang kita inisiasi, yang kita buat, yang kita kerjakan, dan yang selama ini sudah kita tekuni, di saat pelaksanaannya sama sekali tak boleh ada nama kita? Atau tak boleh ada nama lembaga kita? Atau tak boleh memancang spanduk dan memasang bendera kita? Terlebih lagi, justru yang tampil adalah nama dan atribut milik orang lain?

Bagaimana? Jujur saja, cek perasaan kita. Kesal? Marah? Kecewa? Ngambek? Pundung? Purik? Protes? Mencak-mencak? Atau semua itu tumplek blekjadi satu, menyesaki ruang rasa dan bilik hati kita?

Ya, coba jujur saja. Jangan ada dusta di antara kita...

Tetapi mungkin ada di antara kita yang mencoba "jaim"serta bersikap elegan dan dewasa, seakan tak terjadi pertempuran apa pun dalam jiwa dan pikirannya, lalu dengan mantap dia berkata, "Nggak masalah bagi saya. Dan saya tidak merasa kesal atau pun marah, kecewa, ngambek, pundung, purik, protes, apalagi sampai mencak-mencak. Nggak. Biasa saja."

Tetapi nyatanya dada meletup-letup, seakan menanti saat yang pas buat memicu ledakan dahsyat, untuk memuntahkan bom kekecewaan dan kemarahan.

Ya, memang hanya orang gila yang tak pernah merasakan campur aduknya perasaan dan getaran di dalam hati berupa rasa marah, kecewa, kesal, dan lain sebagainya. Perasaan cinta dan benci itu memang menjadi ciri khas makhluk hidup bernama manusia yang masih waras. Kapan mencinta dan kapan membenci itu selalu ada waktunya. Dan akan selalu hadir sebelum datangnya kematian. Maka, sangat wajar jika suatu saat ada kembang cinta tumbuh dalam hati kita, dan di saat yang lain ada semburan api benci dari dalam dada kita.

Tetapi sekali lagi, persoalan awal di atas pastilah sangat mengganggu. Karena apa dan di mana salahnya ketika kita merasa kesal saat kebolehan menampakkan nama dan atribut dalam kerja-kerja kita lantas tiba-tiba dilarang? Apalagi saat menampakkan nama dan atribut tersebut diperlukan. Ya, sekali lagi tak ada salahnya. Hanya saja, ketika hal tersebut tiba-tiba dilarang, maka saat itulah hati kita juga tiba-tiba merasa kesal. Boleh tetapi kenapa dilarang?

Namun sebenarnya kita harus paham dan mengerti bahwa telah ada sedikit ruang yang mulai terbuka di dalam hati kita untuk memberikan kesempatan bagi setan untuk masuk. Kadang kita tak sengaja membukanya saking halusnya setan merayu. Sejatinya kita sedang memberi jalan setan masuk ke benteng pertahanan kita. Sebab, di situlah tempat bersemayamnya rasa cinta dan rasa benci. Mana saja yang setan bisa mencari manfaat maka ia akan datangi. Maka dari itulah ada rasa cinta yang dilarang sebagaimana ada rasa benci yang dilarang. Sebab, setan telah menunggang pada keduanya.

Maka, baiknya kita senantiasa bertanya kepada hati kita saat tiba-tiba ia mencinta atau tiba-tiba ia membenci. Misalnya dalam persoalan tidak bolehnya kita menampakkan nama dan atribut kita, atau bukan karena dilarang tetapi karena ada pilihan lebih baik menyimpan rapat nama dan atribut kita.

Coba kita tanya hati kita. Saat kita kesal dan kecewa. Kenapa dan buat apa? Apa alasan mendasar kekesalan dan kekecewaan kita?

Mungkin kita akan mencari-cari jawaban. Segala rupa alasan kita akan sampaikan. Segala macam argumentasi kita akan buatkan. Hanya saja, semua itu kadang tak berarti apa-apa saat dihadapkan pada satu pertanyaan, buat apa?

Dulu ada seorang tabiin terkenal di Iraq bernama Imam Hasan Basri. Suatu hari, ia melihat ada seseorang duduk tertunduk sedih. Saat ditanya keadaannya, orang tersebut menjawab, "Aku risau memikirkan nasib dan rezekiku. Apakah Anda tidak merisaukannya?"

Imam Hasan Basri menjawab, dirinya tak pernah merasa risau dengan urusan tersebut.

"Bagaimana mungkin Anda tak merisaukannya?" Orang tersebut bertanya lagi kepada Imam Hasan Basri.

Maka dijawablah, "Aku tahu bahwa rezekiku tak akan diambil oleh orang lain, maka hatiku tenang. Dan aku tahu bahwa amalku tak akan dikerjakan oleh orang lain, maka aku sibukkan diriku sendiri dengannya. Aku tahu bahwa kematian akan menjemputku, maka aku persiapkan diri buat bertemu dengan Robbku."

Jawaban Imam Hasan Basri tersebut membuktikan kecerdasan sikap beliau. Bahwa manusia pastilah suatu saat dirundung masalah. Entah sering entah sesekali. Maka, mampu mengatasi masalah adalah bukti kecerdasan sikap seseorang. Sebab, tak mampu atasi masalah adalah pertanda kebodohan.

Dulu cerita yang jauh lebih luar biasa adalah kisah Rasulullah SAW dalam Perjanjian Hudaibiyah. Sungguh kita akan melihat kecerdasan sikap beliau yang sangat tinggi. Kita semua tahu bahwa dalam perjalanan untuk menunaikan ibadah haji, tiba-tiba beliau dan para sahabatnya dihadang oleh orang-orang kafir Quraisy. Semua tak boleh masuk Kota Mekkah. Sampai akhirnya tercapai kesepakatan dalam sebuah perjanjian gencatan senjata di Hudaibiyah. Tetapi apa masalahnya?

Ya, masalahnya adalah bahwa dalam perjanjian tersebut ada beberapa hal sakral umat Islam yang harus dihapus dan dihilangkan. Pertama, terkait penghapusan Ar Rahman dan Ar Rahim dalam penulisan bismillah. Kedua, penghapusan kata Rasulullah dan cukup dengan ditulis Muhammad. Banyak sahabat yang marah,terlebih Umar bin Khattab. Tetapi Rasulullah SAW mampu mengatasi kekesalan dan kekecewaan sahabat-sahabatnya. Meski sekali lagi kekesalan masih tampak hingga mereka enggan menyembelih hewan qurban. Maka, Rasulullah SAW berinisiatif untuk memulai menyembelih lalu para sahabatnya pun mengikuti.

Pertanyaannya adalah, mengapa beliau bisa setenang itu dan tak terlalu merisaukan penghinaan orang kafir Quraisy? Jawabannya adalah janji kemenangan yang telah Allah catat dalam takdir-Nya dan Allah kasih kabar tersebut kepada beliau sebagaimana kalau kita baca dalam surah Alfath.

Jadi, buat apa kita risau, kesal, dan kecewa, bahkan mencak-mencak, jika pada dasarnya semua kebaikan sudah tercatat pahalanya dan tak akan tertukar dengan orang lain? Bukankah pahala atas kebaikan kita tak ditentukan oleh siapa nama kita? Apa nama lembaga kita? Apa bendera kita? Terpancang atau tidak spanduk kita?

Selama kerja-kerja kita telah mendatangkan manfaat dan kebaikan untuk umat dan agama, maka sebenarnya tak perlu lagi kita merisaukan nama kita disebut atau tidak, bendera dan lembaga kita terpasang atau tidak, dan terpampang atau tidak spanduk kita.

Kita harus yakin bahwa Allah tak akan pernah menyia-nyiakan apalagi menghilangkan pahala atas setiap kebaikan yang telah kita kerjakan. Kita tak usah risau dan kecewa jika semua kerja-kerja kebaikan kita tercatat atas nama lembaga lain, selama sama-sama berjuang di jalan Allah. Tak akan pernah Allah salah mencatat, dan Maha suci Allah dari segala kesalahan. Allah hanya melihat kita turut berjuang di jalan-Nya atau tidak. Urusan perjuangan itu bukan tergantung pada siapa nama kita, apa lembaga kita, juga bukan apa bendera kita.

Tetapi...

Tetap problem berat kita adalah khawatir dan takut tak dikenal orang karena tak ada nama dan bendera lembaga pada kebaikan yang kita persembahkan. Semoga Allah lindungi hati kita dari tipu daya setan.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.