Politik sering kali tidak mengenal loyalitas abadi. Yang ada hanyalah kalkulasi kepentingan. Dalam dunia politik elektoral, seorang kader bisa sangat dipuji saat mendatangkan manfaat, tetapi juga dapat segera dijauhkan ketika dianggap menjadi beban citra partai. Fenomena inilah yang tampaknya sedang menimpa Ade Armando dan Grace Natalie di tubuh Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Keduanya menjadi sorotan setelah ikut mengomentari secara negatif potongan pidato Jusuf Kalla di kampus Universitas Gadjah Mada. Persoalannya bukan sekadar kritik politik biasa, melainkan munculnya kesan bahwa komentar mereka dilakukan secara tergesa-gesa dan tanpa melihat konteks utuh pidato JK tersebut. Di ruang publik yang sangat sensitif terhadap isu agama dan tokoh Islam, kesembronoan semacam itu berujung pada kemarahan sebagian kelompok umat Islam.
Bagi banyak kalangan, Jusuf Kalla bukan sekadar mantan wakil presiden. Ia dikenal luas sebagai tokoh perdamaian yang berperan penting dalam penyelesaian konflik di berbagai wilayah, mulai dari Poso, Ambon hingga Aceh. Nama JK juga harum dalam kancah perdamaian internasional. Ia tercatat terlibat dalam beberapa upaya perdamaian di Thailand Selatan hingga Afganistan.
Saat ini JK bahkan masih aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan dan keumatan. Setidaknya JK masih tercatat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia dan Dewan Masjid Indonesia yang keduanya memiliki akar struktural luas. Karena itu, ketika muncul komentar yang dianggap merendahkan martabat atau memelintir pandangan JK yang telah dipotong-potong, kemarahan banyak pihak yang paham rekam jejak JK dalam usaha perdamaian pun terpicu.

Laporan hukum yang dilakukan oleh sekitar 40 organisasi masyarakat yang diinisiasi tokoh Islam sekaliber Din Samsudin atas Ade Armando sontak menjadi eskalasi serius. Ini bukan lagi sekadar perang opini media sosial, melainkan telah memasuki arena hukum dan politik identitas yang sensitif.
Namun yang paling menarik justru bukan kemarahan publik, melainkan respons petinggi Partai Gajah sendiri. Alih-alih tampil membela kadernya secara penuh, PSI justru terlihat mengambil jarak.
Pernyataan resmi PSI yang tidak akan memberikan bantuan hukum kepada Ade Armando dan Grace Natalie menimbulkan banyak tafsir politik. Sikap ini memunculkan pertanyaan besar: apakah PSI sedang “mengorbankan” keduanya demi menyelamatkan citra partai?
Pertanyaan itu terasa relevan jika melihat arah politik PSI belakangan ini. Setelah lama dicitrakan sebagai partai anak muda urban dengan sikap progresif dan kerap berhadapan secara terbuka dengan kelompok Islam konservatif, PSI tampak berupaya melakukan reposisi politik. Partai ini mulai mencoba masuk ke ceruk pemilih muslim yang selama ini relatif sulit mereka raih. Munculnya Ahmad Ali dalam jajaran elite PSI merupakan salah satu sinyalemennya.

Reposisi itu sebenarnya cukup masuk akal. Dalam politik Indonesia, mustahil memenangkan pertarungan nasional tanpa dukungan signifikan dari pemilih muslim. Basis pemilih Islam tetap menjadi kekuatan elektoral terbesar. Karena itu, partai-partai yang sebelumnya dianggap terlalu berjarak dengan aspirasi umat Islam kini mulai berusaha tampil lebih moderat dan akomodatif.
Dalam konteks itulah kasus Ade Armando dan Grace Natalie menjadi ujian besar bagi PSI. Jika PSI membela keduanya secara total, risiko yang muncul adalah menguatnya kembali stigma lama bahwa PSI anti terhadap kelompok Islam. Narasi tersebut selama ini menjadi hambatan serius bagi ekspansi elektoral mereka. Sebaliknya, jika PSI mengambil jarak, maka partai bisa mengirim pesan bahwa tindakan personal kader tidak identik dengan sikap resmi partai.
Situasi terkini menunjukkan kecenderungan untuk PSI mengambil pilihan kedua. Secara politik, langkah itu dapat dibaca sebagai upaya penyelamatan citra. PSI tampak ingin mengatakan kepada publik muslim bahwa mereka tidak berada dalam posisi memusuhi ormas Islam. Dengan kata lain, partai sedang berusaha memutus persepsi bahwa kontroversi Ade Armando dan Grace Natalie adalah wajah ideologis PSI secara keseluruhan.
Namun strategi semacam ini mengandung konsekuensi moral dan politik. Pertama, masyarakat terdidik bisa melihat PSI sebagai partai yang pragmatis dan kurang solider terhadap kadernya sendiri. Ketika kader sedang menjadi aset elektoral, mereka dirangkul. Tetapi ketika menjadi sumber masalah, mereka segera dijauhkan. Politik semacam ini mungkin efektif secara jangka pendek, tetapi berisiko merusak loyalitas internal.

Kedua, pengorbanan politik belum tentu efektif menghapus stigma lama. Dalam politik identitas, persepsi publik sering kali tidak berubah hanya karena satu dua pernyataan resmi partai. Kelompok yang sejak awal memandang PSI secara negatif kemungkinan tetap tidak mudah percaya bahwa partai benar-benar berubah.
Ketiga, kasus ini memperlihatkan bagaimana media sosial telah menjadi jebakan bagi elite politik sendiri. Kecepatan berkomentar demi mengejar momentum sering kali mengalahkan kehati-hatian membaca konteks. Potongan video, cuplikan pidato, dan narasi separuh utuh kini dapat dengan cepat memicu kegaduhan nasional. Banyak tokoh politik akhirnya terjebak dalam budaya reaksi spontan yang justru merugikan diri mereka sendiri.
Ade Armando dan Grace Natalie mungkin kini sedang merasakan harga mahal dari politik komentar instan itu. Tetapi di saat yang sama, PSI juga sedang mempertaruhkan sesuatu yang lebih besar: identitas politiknya sendiri.
Apakah PSI benar-benar sedang mengorbankan Ade dan Grace demi mendekati pemilih muslim? Sangat mungkin demikian. Sebab dalam politik, menjaga peluang elektoral sering kali dianggap lebih penting daripada mempertahankan solidaritas personal.
Dan bila itu benar terjadi, maka kasus ini menjadi pengingat bahwa dalam politik modern, kader bisa saja menjadi tameng pertama yang dilepas ketika badai citra mulai mengancam wajah partai.
Terpenting, bagaimana dengan konstituen muslim? Haruskah terpesona dan terperangkap dengan dinamika semacam ini? Jangan mudah lupa dan jangan mudah terkesima oleh drama-drama politik. Tetaplah menyalurkan suara politik anda berdasarkan pertimbangan iman, akal sehat dan kemaslahatan bersama.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!


