Melihat ke Dalam

Melihat ke Dalam
Photo by Laurenz Kleinheider / unsplash.com

Bolehkah seorang muslim merasa ketar-ketir manakala kelaparan hebat datang mendera? Layakkah seorang muslim takut menghadapi serangan musuh yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia? Jawabannya tidak. Tidak ada alasan seujung kuku pun yang dapat dijadikan hujjah untuk membenarkan ketakutan-ketakutan di atas. Allah telah mejamin penuh, umat Islam tak akan pernah punah dihantam kelaparan yang merata atau diserang musuh yang bersekutu dari seluruh penjuru dunia.

Namun, Allah tak menjamin umat Islam dapat tetap survive di muka bumi ini, jika sebagian mereka tak berhenti menganiaya dan menzalimi sebagian yang lain.

Jaminan Allah itu merupakan jawaban do’a Nabi Muhammad SAW yang khawatir terhadap nasib umatnya sepeninggal beliau kelak. Allah berfirman dalam Hadist Qudsi:

“Wahai Muhammad! Sesungguhnya jika aku telah memutuskan suatu ketetapan, maka keputusan itu tak dapat ditolak lagi. Dan sungguh Aku telah menetapkan untuk umatmu, bahwasanya mereka tidak akan dibinasakan oleh kelaparan yang merata, dan tidak akan dapat dikalahkan musuh, sekalipun mereka berhimpun dari segala penjuru dunia, sehingga sebagian mereka sendiri membinasakan sebagian yang lain” (Shahihul muslim, Bab ‘Halaka Hadzihil ummatu ba’dluhu bi ba’dlin’).

Wajar bila kemudian Syekh Rasyid Ridla, penulis tafsir Al Manar, merasa yakin tak ada kekuatan apapun yang dapat mengalahkan kaum muslimin. Apalagi sejarah mencatat umat Islam tak pernah kalah menghadapi kaum kafir semata, betapapun besarnya jumlah mereka dan canggihnya persenjataan mereka. Tapi, umat Islam kerap tak berdaya menghadapi tipu daya dan intrik yang ditiupkan kaum munafik. Mereka inilah musuh dalam selimut, musang berbulu domba. Mereka itu kelompok yang “Fina Wa Laisa Minna” (berada bersama kita tapi bukan golongan kita).

Begitu halus dan cantiknya permainan yang digelar kaum munafik itu, sehingga kita tak sadar telah dipecah belah. Dengan gampangnya kita bersalam-salaman dengan pihak yang track recordnya dipenuhi sikap apriori terhadap Islam sekurang-kurangnya tak pernah memperjuangkan Islam sembari pada saat yang sama kita enggan bertatap muka dengan sahabat lama. Begitu merasuknya tiupan yang dibidikkan kaum munafik, sehingga banyak pemimpin umat yang tak sanggup lagi memperjuangkan idealitas, dan menyerah total pada realitas. Padahal yang dikatakan realitas itu tak lebih dari buatan diri mereka sendiri. Sebab, kenyataan hidup merupakan refleksi dari perilaku hidup.

Dan yang penting dicermati, kehebatan tipudaya kaum munafik itu bukan baru sekarang saja. Tapi, telah merajalela sejak lama. Bahkan, mereka tak segan mengobok-obok kehormatan Nabi Muhammad SAW dan keluarganya. Salah satunya saat mereka menyebarluaskan Haditsul Ifki, berita bohong tentang Siti Aisyah ra, isteri Rasulullah SAW. Bila terhadap keluarga Nabi saja mereka berani bertingkah demikian, apalagi terhadap kita yang lemah, fakir dan berselimut dosa.

Jadi, ketimbang jauh-jauh melongot keluar, lebih afdol bila kita sering-sering melihat ke dalam.

Penulis: Ibnu Sabililhaq

Disadur dari majalah Sabili Edisi No. 17 th. VI 10 Maret 1999/ 22 Dzulqa’idah 1419

Baca juga:

Rindu Syahid
Bila dunia dipuji dan diagungkan maka akhirat menjadi rendah dan turun nilainya. Sebaliknya, bila akhirat menjadi standar, maka dunia akan dipandang hina dan tidak menjadi ukuran kehidupan.
Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.