Ketika Juri Tak Cerdas dan Tak Cermat

Ketika Juri Tak Cerdas dan Tak Cermat
Ketika Juri Tak Cerdas dan Tak Cermat / Foto Tangkapan layar YouTube @MPRRIofficial

Ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat mendadak viral. Lomba adu cerdas antar pelajar yang dilakukan secara berkala itu  justru berubah menjadi cermin besar tentang bagaimana ketidakcermatan dan ketidakcerdasan dapat melahirkan ketidakadilan di ruang publik.

Polemik itu tersulut ketika jawaban yang dinilai memiliki substansi sama justru memperoleh penilaian berbeda dari dewan juri. Alih-alih mendapatkan pengakuan atas protesnya, peserta yang menuntut keadilan justru dibungkam dengan tuduhan “artikulasi” yang tidak jelas!

Lomba tentang Empat Pilar Kebangsaan adalah ruang yang semestinya menjadi teladan tentang objektivitas, ketelitian, dan penghormatan terhadap akal sehat. Publik memang patut beretanya; bagaimana mungkin sebuah ajang yang mengajarkan nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara justru menyuguhkan kontroversi yang dianggap menabrak nilai-nilai dasar itu sendiri?

Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam dari sekadar lomba adu kepintaran dan kecermatan antar pelajar.

Kita sering menganggap kecerdasan hanya soal pengetahuan. Padahal, kecerdasan juga menyangkut kemampuan mendengar dengan utuh, menilai dengan jernih, dan mengambil keputusan dengan adil. Sementara kecermatan adalah kemampuan memperhatikan detail sebelum memutuskan sesuatu yang berdampak pada orang lain.

Ketika seseorang tidak cerdas, ia mudah salah memahami. Ketika seseorang tidak cermat, ia mudah salah menilai. Tetapi ketika dua hal itu bertemu dalam satu tangan kekuasaan, lahirlah kezaliman yang dilazimkan.

Seragam Otoritas
Rusaknya rakyat disebabkan rusaknya penguasa, rusaknya penguasa disebabkan rusaknya ulama, dan rusaknya ulama disebabkan kecintaan pada harta dan kedudukan.

Banyak konflik lahir bukan karena niat jahat semata, melainkan karena keputusan yang diambil secara sembrono. Banyak orang kehilangan hak bukan karena mereka salah, tetapi karena ada pihak yang malas mendengar secara lengkap. Banyak kebijakan publik melukai rakyat bukan karena negara kekurangan aturan, melainkan karena pengambil keputusan tidak cukup cerdas membaca kenyataan dan tidak cukup cermat memahami dampak.

Sebuah lomba cerdas cermat mungkin tampak sederhana. Namun sesungguhnya ia miniatur kehidupan bernegara. Di dalamnya ada aturan, ada otoritas, ada peserta yang berharap keadilan, dan ada penilaian yang menentukan masa depan. Karena itu, publik tersentak bukan semata karena nilai minus lima atau plus sepuluh, melainkan karena mereka melihat sesuatu yang lebih besar;  betapa berbahayanya keputusan yang lahir dari ketidakcermatan dan betapa perihnya saat protes atas kekeliruan dinafikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketidakcermatan mungkin hanya membuat seseorang salah bicara atau salah posting. Tetapi dalam kekuasaan, ketidakcermatan bisa membuat rakyat kehilangan kepercayaan. Dalam birokrasi, ia bisa membuat paket Bansos salah sasaran. Dalam hukum, ia bisa menghukum orang yang benar. Dalam politik, ia bisa melahirkan pemimpin yang keliru mengambil arah bangsa.

Karena itu, viralnya LCC Kalbar sesungguhnya memberi panggung hikmah bagi kita semua. Bahwa menjadi “juri” dalam kehidupan baik sebagai guru, pejabat, pemimpin, orang tua, bahkan pengguna media sosial, mutlak menuntut kecerdasan dan kecermatan sekaligus.

Kita hidup di zaman ketika banyak orang cepat memberi penilaian sebelum mendengar lengkap. Cepat memvonis sebelum memeriksa fakta. Cepat marah sebelum memahami konteks. Padahal satu keputusan yang salah bisa meninggalkan luka panjang.

Kesenjangan Elite Agama dan Akar Rumput
Jagat diskursus publik Indonesia sempat diguncang polemik pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) kepada organisasi masyarakat (ormas) keagamaan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 25 Tahun 2024.

Di era digital, ketidakcermatan bahkan menjadi epidemi sosial. Potongan video dipahami tanpa konteks. Informasi setengah dibagikan penuh keyakinan. Orang yang paling keras bicara sering dianggap paling benar, padahal bisa jadi ia  paling dangkal memahami persoalan.

Maka, hikmah terbesar dari peristiwa viralnya LCC bukanlah soal siapa juara lombanya. Melainkan pengingat bahwa keadilan hanya mungkin lahir dari orang-orang yang mau mendengar dengan utuh, berpikir dengan jernih, dan menilai dengan hati-hati.

Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang pintar. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang cerdas sekaligus cermat. Karena orang pintar yang tidak cermat bisa menjadi sumber kekacauan. Dan kekuasaan di tangan mereka yang tak cerdas dan tak cermat hanya akan melahirkan keputusan-keputusan yang melukai akal sehat masyarakat.

Pesan penting bagi kita semua; insiden LCC Kalbar akhirnya mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar hafalan konstitusi, bahwa keadilan dimulai dari kemampuan mendengar secara benar dan menilai secara jujur. Itu artinya, kita dituntut mampu menempatkan hati, penglihatan dan pendengaran secara benar dalam berbagai posisi kita, entah itu sebagai juri, pendidik, atau bahkan regulator.

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah (Q.S Al-A’raf : 179)

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.