Kembali Ke “Rumah Besar” Dewan Da’wah (Bagian 4 terakhir)

Kembali Ke “Rumah Besar” Dewan Da’wah (Bagian 4 terakhir)
llustrasi Mohammad Siddik dan Dewan Dakwah oleh Ichsan / sabili.id

Setelah melanglang buana di negeri orang. Ketika dirinya berusia 60 tahun memutuskan untuk pulang ke Indonesia, dirinya berazam mengabdi di tanah air yang sudah lama ia tinggalkan. Saat itu juga dirinya kembali ke rumah besarnya yakni Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang selama masa mudanya ia banyak menimba ilmu dan ketauladan dari para bapak-bapak Masyumi.

Saat dirinya kembali ke rumah besarnya, Siddik diamanahi sebagai Ketua Badan Pengawas dan pada periode sebelumnya sebagai salah seorang ketua. Dirinya juga sempat diamanahi sebgai Direktur Lembaga Amil Zakat, Infaq dan shodaqoh (LAZIS Dewan Da’wah) yang diresmikan oleh Menteri agama RI sesuai UU Zakat No. 38 tahun 1999.

Melalui LAZIS DDII menghadirkan peranan DDII dalam menangani korban bencana alam di seluruh Indonesia. Memberikan pelayanan kesehatan gratis, membuat program rehabilitasi ekonomi untuk korban bencana alam dengan pembangunan rumah sederhana bekerjasama dengan berbagai lembaga kemanusiaan di dalam dan luar  negeri. Sebelum LAZIS Dewan Da’wah berdiri- siddik sempat membantu kegiatan KOMPAK (Komite Penanggulangan Krisis) Dewan Dakwah.

Dengan pengalaman dan jaringan yang luas dirinya juga mengusahakan dukungan untuk pendanaan da’i  Dewan Dakwah yang mencapai jumlah ratusan di seluruh tanah air. Siddik juga sempat diamanahi untuk memimpin perusahan travel biro pelayanan Haji dan Umrah sebagai bagian dari kegiatan Dewan Dakwah sekaligus sebagai profit centre untuk mendukung kegiatan Dewan Dakwah.

2015 adalah tahun yang berat ia jalankan. Siddik terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Da’wah menggantikan KH. Syuhada Bahri. Bagi Siddik tentu tugas ini berat ia jalankan dengan beberapa pertimbangan, namun atas  desakan dari para pegurus dan pimpinan Dewan Dakwah ia dikukuhkan menakhodai gerakan Dewan Dakwah. Di sini ia banyak belajar kepemimpinan, kesahajaan, keistiqomahan dari para bapak-bapak Masjumi di Kramat Raya no 45 Jakarta.

Di era kepemimpinannya, Siddik dituntut untuk terus berjuang dengan tantangan dakwah yang semakin kompleks, mulai dari kaum LGBT, Syi’ah, Komunisme, Kristenisasi, Kebodohan, dan aliran-alairan yang menyimpang. Dalam kerangka Dewan Dakwah sebagai gerakan bina’an wa difa’an yang harus terus dilakukan sepanjang zaman.

Suka Membaca Kehidupan

Sejak kecil pria asal Kuala Simpang Aceh keturunan Pakistan ini suka merenungkan kata-kata hikmah dan mutiara bijak yang sering ia lihat dibeberapa harian surat kabar dan majalah. Salah satu renungan hikmah yang jadi inspiranya sejak kecil hingga saat ini adalah, “Hiduplah sebelum kelahirannmu dan matilah sebelum meninggalmu" artinya jadilah orang yang baik yang selalu diidamkan orang dan selalu dikenang orang.

Orang baik itu sebelum tiba di suatu tempat (baik itu lingkungan, kantor, sekolah, dan apa saja) atau sebelum ia dilahirkan ditempat itu, orang sudah mendengar kebaikannya dan orang mengharapkan kehadirannya. Dengan kata lain ia sudah hidup sebelum kehidupannya di tempat itu.    

Selanjutnya meskipun nanti si orang baik itu pindah, orang masih mengenang dirinya. Itu karena kebaikan dan jasa-jasa serta sumbangangannya untuk masyarakat yang ditinggalkannya, seolah-olah dia masih hidup dan masih belum mati ditempat itu.

Dan generasi dakwah pun mengenang Figur ini sebagai Komandan Diplomasi.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.