KH. A.R. Fakhruddin: "Ulama Zuhud ditengah Tantangan Zaman"

KH. A.R. Fakhruddin: "Ulama Zuhud ditengah Tantangan Zaman"
Ilustrasi KH. A.R Fakhruddin oleh Ichsan / sabili.id

Sewaktu masih Tsanawiyah Pesantren Muhammadiyah Cipanas Pacet-Cianjur, nama KH. A.R Fakhruddin Allahuyarham sudah saya kenal. Bahkan asrama yang saya tempati bernama ruang KH. A.R Fakhruddin. Guru pelajaran Tauhid dan Adab ini sering mengungkapkan sosok ulama yang begitu zuhud dalam setiap pengajaran yang kami terima.

Abdul Razaq Fakhruddin lahir di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta, 14 Februari 1916, adalah anak pasangan dari KH. Fakhruddin bin KH. Idris. KH. Fakhruddin adalah Lurah Naib Pakualaman. Pendidikan yang ditempuh pak AR, begitu ia biasa di sapa, sekolah Muhammadiyah. Mulai dari Standard School Muhammadiyah Bausasran, SD, Madrasah Muallimin Muhammadiyah, Sekolah Guru Darul Ulum Muhammadiyah Sewugalur, Kulonprogo, sampai Tabligh School Muhammadiyah.

Perjalanan karirnya dimulai dari bawah, sebagai guru dan mubaligh di usia yang masih belia, 18 tahun (tahun 1934). Selama 10 tahun menjadi guru di Palembang. Setelah itu pulang ke kampung halamannnya. Selama 1 tahun menjadi pamong desa Kelurahan Galur, Brosot, Kulonprogo.

Di awal negeri ini merdeka, tahun 1945, Pak AR diangkat menjadi pegawai Departemen Agama, jabatan terakhirnya adalah Kepala Kantor Penerangan Departemen Agama DI Yogyakarta, tahun 1972.

Adapun aktivitasnya di Persyarikatan Muhammadiyah bermula sebagai pimpinan Muhammadiyah Kota Madya Yogyakarta (1952), Ketua Pimpinan Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (1953), anggota Pimpinan Pusat (1956-1965), Ketua PP Muhammadiyah (1968-1992), dan Penasihat PP Muhammadiyah (1992-1995).

Selama 24 tahun, dari tahun 1968 sampai 1992, ia menjadi orang nomor wahid di Muhammadiyah. Amanah tersebut ia pegang tatkala KH. Fakih Usman, ketua PP Muhammadiyah waktu itu, meninggal dunia.

Fakih Usman terpilih sebagai ketua PP Muhammadiyah periode 1968 – 1971. Tapi, belum setahun ia memegang amanah sebagai pimpinan Muhammadiyah, KH. Fakih Usman meninggal dunia.

Maka, oleh pengurus, Pak AR didaulat secara aklamasi untuk menggantikan posisi Fakih Usman, 3 Oktober 1968. Dikokohkan dalam muktamar berikutnya. Pada muktamar Muhammadiyah ke-42 di Solo, tahun 1992, Pak AR yang terpilih sebagai 13 besar anggota PP Muhammadiyah menolak jabatan ketua PP. Ia memberikan alternatif penggantinya kepada KH. Ahmad Azhar Basyir, MA.

Bagi yang pernah kenal, menengok keseharian Pak AR, mereka akan sepakat bahwa tokoh yang satu ini adalah sosok yang sederhana. Dalam pandangan budayawan Emha Ainun Nadjib, “Sederhana melimpah rizqi dari Allah kepada Pak AR, sehingga kehidupan beliau sama sekali tidak bergantung kepada barang-barang dunia.

Pernahkah Anda bayangkan, seorang pemimpin organisasi besar yang anggotanya berpuluh-puluh juta, mencari nafkah ‘hanya’ dengan beberapa dirigen minyak tanah dan bensin, dijual di depan pagar rumahnya?”

Kekaguman Emha tak berhenti sampai di situ. Ia melanjutkan, “Ditengah zaman dimana para pemimpin orang banyak, para pemegang kekuasaan dan senapan banyak mengolusikan modal-modal itu untuk perolehan-perolehan finansial, bisakah anda berfikir ada seorang kyai besar yang profesi ekonominya adalah penjual eceran minyak di kios pinggir jalan? Di tengah era dimana seorang Kiyai bisa menjual kekiyaiannya, seorang pemimpin bisa mengomoditikan kepemimpinannya, serta dimana seorang penggenggam masa bisa mengecerkan akses-aksesnya kata apakah yang sebenarnya bisa kita ucapkan kepada pak AR yang bersih dari semua itu?”

Emha benar. Rumah dinas milik persyarikatan di Jalan Ditiro, Yogyakarta, kesederhanaan itu tampak. Pak AR bukanlah penganut tarekat atau seorang sufi. Tapi pembawaannya sangat sederhana, juga kehidupanya dalam keluarga. Saking sederhananya, meski ada generasinya, tak ada mobil yang menjadi penghuninya.

Yang nangkring di garasinya hanya sebuah sepeda motor Yamaha butut keluaran 1970-an. Motor ini yang ia pakai untuk berdakwah di sekitar Yogya. Kalau motor tersebut kebetulan di pakai anak-anaknya untuk kuliah atau keperluan lain, maka ia lebih suka naik sepeda onthel, beca, atau jalan kaki. Tak jarang, Pak AR, dibonceng naik motor oleh anak-anak SMA, untuk mengisi pengajian di sekolah atau di masjid-masjid kampung.

Secara kasat mata sesuatu yang tak lazim, seorang pemimpin organisasi modern terbesar di Indonesia punya puluhan rumah sakit dan ribuan sekolah itu, hidup dengan penuh kesederhanaan. Di rumahnya, tak hanya ada kios bensin, tapi juga beberapa kamar disewakan untuk kos-kosan mahasiswa.

Dalam sebuah forum pengajian, Pak AR pernah ditanya oleh seorang jamaah, "Pak AR, dalam hadits diterangkan bahwa selama bulan Ramadhan setan dan iblis dibelenggu. Tetapi, mengapa kenyataannya masih banyak orang yang berbuat maksiat di bulan Ramadhan?” Dengan kalem dan suara serak-serak basah Pak AR menjawab, “Yah, itulah manusia. Banyak yang lemah iman. Dengan setan dibelenggu saja kalah, apalagi melawan setan lepas-lepasan.” Tentu saja, orang yang bertanya dan jamaah yang hadir ger-geran mendengarnya.

Diharian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, Pak AR mengisi rubrik khusus tajuk Pak AR Menjawab. Disini, Pak AR menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan. Ia menggunakan logika yang sederhana, dan mudah dimengerti oleh pembacanya. Mengapa ia tak menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits dengan mengutipnya dalam bahasa Arab?

Pak AR punya penjelasan. “Masyarakat Indonesia memang mayoritas Muslim. Tetapi kita harus memahami bahwa masyarakat Muslim yang mayoritas masih disuguhkan soal-soal Keislaman yang ringan-ringan. Untuk mereka kita belum dapat menyuguhkan yang asli, murni, dan kontan dari Al-Qur’an dan hadits-hadits Shahih menurut bentuknya yang asli. Bukannya saya mau menyelewengkan atau memalsukan. Tetapi kita harus dapat mengalah sedemikian rupa sehingga dapat dicerna dengan baik.”

Rupanya, Pak AR sadar sasaran dakwahnya. Sebagian besar penanya, baik di rubrik Pak AR Menjawab maupun ketika ia mendapat pertanyaan dari jamaah usai berceramah, adalah muslim yang masih perlu mendapat siraman dakwah.

Mereka adalah Muslim dan Muslimah yang masih memerlukan pembinaan dan pengayoman melalui cara-cara yang tidak membuat mereka lari dari Islam. Itu sebabnya, kepada mereka diberikan jawaban-jawaban yang bersifat santai sehingga mampu dicerna. Ini juga memberikan pesan bahwa Islam tidak akan memberi beban yang membuat mereka tak mampu menanggungnya.

Pak AR dikenal sebagai pendakwah yang tidak menyinggung orang lain, melainkan lebih pada mengajak untuk berintrospeksi diri. Ketika banyak orang menentang dan mempertanyakan Sekaten di Yogyakarta yang menggelar tontonan dangdut, Tong Setan, Bola Maut, dan sejenisnya, Pak AR dengan kalem menjawab, “kalau tak rela perayaan sekaten ada tari Dangdut, Tong Setan, Bola Maut, dan sejenisnya, mari kita gembirakan isi dengan keseniaan yang bermutu dan bercitra Islam.

Jika umat agama lain punya sekolahan, panti asuhan, rumah sakit, ayolah kita tanding jangan Cuma menggerutu. Ada yang tiap malam Minggu nonton Bioskop karcis seribu, tapi kalau jumatan kasih 50 rupiah. Kalau tidak boleh, mentang-mentang membawa agama Allah melanggar jalur helm.”

Ada juga yang bertanya lalu di muat dikolom Pak AR Menjawab,” Bagaimana kalau uang dari hasil kemenagan SDSB (sumbang dana sosial berhadiah-Red) dimanfaatkan untuk membangun masjid?”

“Boleh-boleh saja kalau ingin dimanfaatkan untuk membangun Masjid,” begitu jawab Pak AR. Tapi, ia juga mengingatkan bahwa orang yang mendirikan masjid dengan dana yang diperoleh dari hasil kemenangan membeli SDSB dan sejenisnya, tak bakal mendapat pahala dari Allah.

Pak AR lalu menjelaskan argumentasinya, “saya berani mengatakan, boleh saja sebagian hadiah itu dimanfaatkan untuk membangun masjid, sebab ada kemungkinan uang itu digunakan untuk hal-hal yang malah mendatangkan maksit. Jadi, dari pada digunakan untuk hal-hal lain, ada baiknya digunakan untuk membangun tempat ibadah.”

Tak berhenti disini, Pak AR juga mengajak penanya dan pembacanya berfikir serta merenung ulang, bahwa mendirikan masjid dari hasil uang menang judi, akan menimbulkan masalah di masyarakat. Ia mengiatkan, “Bersediakah orang-orang sekitarnya sembahyang dengan sebagian dari uang haadiah SDSB? Sahnya sih Sah sembahyang di masjid tersebut sepanjang memenuhi syarat dan rukun-rukun shalat.”

Dalam suatu ceramahnya di masjid Syuhada, Yogyakarta, Pak AR bercerita tentang kehebatan tongkat Nabi Musa a.s. ”Ular-ular para ahli sihir yang disewa oleh Fir’aun itu semuanya ditelan satu persatu, seperti menelan lemper,” katanya dengan nada suara datar dan serak-serak basah. Lagi-lagi yang mendengarnya dibuat ger-geran.

Juga, ketika ada acara Ramadhan in Campus di Universtas Gajah Mada, Yogyakarta, ia mengingatkan bahwa para mahasiswa yang terbiasa berfikir fisolofis jangan terlalu rasional dalam menanyakan dan membahas masalah-masalah agama. “Soalnya saya takut nanti ada yang bertanya, kenapa shalat subuh dua rakaat, padahal waktu subuhkan orang masih segar dan tenaganya kumpul. Nah, bagaimana saya bisa menjawabnya? Tapi, nanti ada juga mahasiswa yang menjawab, ‘Ya karena yang paling duluan bangun di pagi harikan ayam, dan karena ayam kakinya dua, maka shalat subuh pun dua rakaat,” kata Pak AR yang kontan saja disambut gerrr oleh mahasiswa.

Kesederhanaan Pak AR tak hanya dalam wujud kehidupan pribadi dan keluarganya. Ia pun sangat menyayangi orang-orang kecil dan miskin. Kecintaannya itu ia tampilkan dalam bentuk pelayanan kepada kaum dhu’afa tersebut. Ia akan memprioritaskan bila diundang dikalangan rakyat kecil, seperti di lembah kali Code dan kampung-kampung sekitar kawasan Yogyakarta.

Kecintaannya berdakwah di lingkungan kaum du’afa tersebut pernah ia jelaskan dalam salah satu kultum (kuliah tujuh menit)-nya. “karena itulah sunnah Nabi saw. Pengikut Islam yang pertama adalah dari kalangan bawah, miskin, dan budak belian,” tuturnya. “Karena itu, sebagai da’i, jangan terlalu berharap kepada orang-orang besar dan kaya. Bukankah nabi Muhammad saw pernah mendapatkan teguran karena menyepelekan orang kecil demi berdakwah untuk orang besar?”

Kisah yang di angkat oleh Pak AR ini berkaitan dengan Abdullah bin Ummi Maktum yang meminta penjelasan tentang Islam, sementara Rasulullah saw sedang berdakwah di hadapan pembesar Quraisy yang berada dalam satu majelis.

Itulah yang justru menjadi kekuatan Pak AR, sifatnya yang zuhud membuat umat merasa aman dan nyaman bila ia memimpin sebuah organisasi modern yang bernama Muhammadiyah. Keteladanan ini perlu direnungkan ulang oleh mereka yang bergerak di bidang dakwah!

Keteladanan dalam rumah tangga pun perlu diikuti oleh keluarga Muslim. Ini terlihat dari upayanya untuk terus memelihara shalat lima waktu secara berjamaah. Pada ba’da shalat Maghrib, Isya, dan Subuh, Pak AR selalu memberikan kultum, yang berupa nasihat-nasihat untuk keluarganya. Meski sebagai ulama besar, Pak AR tidak selalu menjadi imam dalam shalat.

Terkadang anak-anaknya yang menjadi imam shalat, sementara Pak AR jadi makmumnya. Setelah malang melintang di dunia pergerakan dakwah lebih dari setengah abad, pada 17 Maret 1995, Pak AR menghadap Sang Khalik di Rumah Sakit Islam, Jakarta. Puluhan ribu umat Islam ikut menshalatinya dan mengantarkan jenazahnya sampai ke liang lahat di Yogyakarta. Selamat jalan Pak AR, perjuanganmu akan kami lanjutkan. Risalah merintis, dakwah melanjutkan!

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.