Rocky Gerung itu Bahlul?

Rocky Gerung itu Bahlul?
Ilustrasi Rocky Gerung dan Bahlul oleh Ichsan / Sabili.id

Kritik sarkasme Rocky Gerung kepada Presiden Jokowi masih terus menghebohkan jagat politik nasional. Para pendukung Jokowi dan PDIP marah besar. Mereka menggelar aksi unjuk rasa di berbagai daerah, menuntut polisi segera menangkap filosof yang dikenal juga sebagai pengamat politik itu. Bukan cuma relawan Jokowi dan PDIP yang tersulut emosinya, tapi juga sejumlah petinggi negara. Yang paling keras menyalak adalah KSP Moeldoko. Ia menuding balik Rocky sebagai orang pintar yang tak punya hati nurani, sehingga lebih pantas disebut robot. Bahkan mantan Panglima TNI di era Presiden SBY itu dengan lantang menyatakan dirinya siap “pasang badan” untuk melindungi Presiden Jokowi.

Tapi Rocky tidak sendirian. Sejumlah tokoh publik berdiri di sampingnya. Salah satunya mantan Ketua PP Muhamadiyah Dien Syamsudin. Pria asal NTB yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat itu menilai, di negara demokrasi kritik Rocky kepada Presiden Jokowi sah sah saja. Sebaliknya, ia justru menyayangkan reaksi sebagian kalangan yang dianggapnya berlebihan. “Seyogyanya para pejabat, termasuk KSP Moledoko tidak usah bereaksi berlebihan, apalagi menunjukkan kekuasaan. Lebih baik mereka mawas diri, mengevaluasi apakah kritik Rocky Gerung benar atau salah” kata Dien. Sementara Presiden Jokowi sendiri dengan enteng menyatakan hal itu sebagai soal kecil.

Aneh memang. Orang yang dikritik terkesan adem-adem saja, tapi para pendukungnya malah blingsatan. Padahal laporan mereka ke Bareskrim Mabes Polri sudah ditolak, karena kasus ini merupakan delik aduan. Hal senada juga ditegaskan Menko Polhukam Mahfud. Ia mengaku belum melihat ada tanda-tanda pihak istana akan melaporkan Rocky. Namun, Mahfud tidak menutup kemungkinan kasus ini bergeser dari delik aduan, jika menimbulkan kegaduhan dan keonaran di masyarakat.

Entah ada kaitannya atau tidak dengan statemen Mahfud, belakangan Rocky minta maaf. Padahal Rocky selama ini dikenal sebagai pengamat politik yang kukuh dengan pandangannya dan pantang menarik kata-katanya. Ia juga dikenal piawai memilih kata dan diksi untuk menyatakan kritik tajamnya terhadap kebijakan negara dan pemerintah. Tapi, akademisi yang digandrungi banyak orang itu menegaskan, Ia minta maaf atas terjadinya kegaduhan di masyarakat atas pernyataannya dan bisa menimbulkan keonaran. Bukan atas kritiknya terhadap Presiden Jokowi.

Apa sebenarnya isi pernyataan Rocky yang menimbulkan kehebohan luar biasa itu. Coba kita simak kutipan berikut ini:

“Presiden Jokowi tidak pernah peduli permintaan buruh. Dia berupaya untuk menunda pemilu karena dia belum dapat kesepakatan dari ketua-ketua partai siapa yang akan melindungi dia ketika dia lengser.”

“Itu bajingan yang tolol, kalau dia bajingan pintar dia mau terima berdebat dengan Jumhur Hidayat. Tapi bajingan tolol itu sekaligus bajingan yang pengecut. Ajaib bajingan tapi pengecut.”

Sebenarnya diksi "tolol" yang dipakai Rocky lebih santun ketimbang kata “dungu” yang sering dipakainya dan membuatnya populer. Dalam Bahasa Betawi padanan kata dungu itu adalah ”dongo”. Kata itu untuk menggambarkan kebodohan yang luar biasa. Tiada tanding, tiada banding. Maka, ketika Rocky menghindari kata itu sesungguhnya ia berusaha memakai kata yang lebih halus. Boleh jadi kemarahan relawan Jokowi lebih karena diksi ”bajingan” yang dipakai Rocky yang berkonotasi jahat dan buruk.

Terlepas apapun kontroversi yang ditimbulkannya, kritik sarkas Rocky mengingatkan kita pada sepenggal kisah Khalifah Harun Al Rasyid. Khalifah kelima Dinasti Abbasiyah yang memerintah tahun 786-809 M itu dikenal sebagai penguasa yang adil dan bijaksana. Para sejarawan menempatkannya sebagai peletak dasar peradaban Islam yang dibangun dinasti Abbasiyah. Di era pemerintahannya dan dilanjutkan oleh putranya Muhammad bin Harun Al Amin, kemudian Ma’mun Al Rasyid dikenal sebagai The Golden Age of Islam.

Ibukota Baghdad termasyhur sebagai salah satu pusat ilmu dan peradaban. Pembangunan gedung, jalan, jembatan dan banguan fisik lain yang megah dan indah, beriringan dengan pengembangan intelektual melalui pendirian Baitul Hikmah yang berfungsi sebagai perpustakaan, pusat riset dan perguruan tinggi sekaligus. Begitupun dengan aspek spiritual religius dengan membangun tempat-tempat ibadah dan majlis mudzakarah yang bertebaran di seantero negeri yang luasnya mencakup kawasan Timur Tengah, Afrika Utara hingga Hindustan. Berbarengan pula dengan pemerataan kesejahteraan dan kemakmuran yang dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat. Di masa itu boleh dibilang sangat sulit mencari orang yang mau menerima zakat dan derma, saking meratanya pembangunan ekonomi.

Salah satu kunci sukses itu adalah kebiasaan dan kegemaran khalifah berdiskusi dan mendengarkan kritik dari para ulama. Bahkan sejarah mencatat, Harun Al Rasyid kerap mengundang ulama atau bertandang ke rumahnya hanya untuk mendapatkan kritik dan saran mereka. Sekeras dan sekasar apapun kritik yang disampaikan, Harun tidak marah. Malahan ia kerap menangis ketika kritik itu tajam dan menohok hatinya, bahkan meminta sang kritikus menambahkan kritik dan nasehatnya.

Termasuk jika kritik itu datang dari orang yang dianggap kurang waras dan tidak punya sopan santun. Salah satunya adalah saat ia dikritik -lebih tepat dibully- oleh Bahlul. Bahlul sebenarnya seorang sufi. Namun karena suka berkata dan berperilaku aneh, orang memanggilnya Bahlul (bermakna bodoh, sedeng dan sejenisnya).

Saat itu Khalifah Harun Al Rasyid sedang dalam perjalanan haji dan transit di Kufah. Lazimnya kalau ada pembesar lewat, rakyat pun berkerumun di sekelilingnya. Namun para pengawal dengan sigap menyingkirkan kerumunan itu. Bahlul yang saat itu ada dalam kerumunan lantas berteriak," Hai Amirul Mukminin, Hai Amirul Mukminin". Mendengar teriakan itu Khalifah menaikan tirai kendaraannya dan berkata,"Labbaik, wahai Bahlul ada apa?" Bahlul menjawab "Amirul Mukminin tahukah engkau Rasulullah SAW pergi Haji mengendarai seekor Unta dengan pelana sederhana di punggungnya tanpa meminta orang menyingkir dari sisinya. Wahai Amirul Mukminin, semestinya engkau juga berkendara dengan tawadlu(rendah hati), bukan dengan keangkuhan."

Mendengar teguran tersebut, Khalifah menangis sembari berkata" Tambah lagi nasehatmu Wahai Bahlul, semoga Allah memberkahimu.

"Bahlul lantas berkata: "Engkau memang penguasa dunia. semua orang tunduk padamu. Sadarlah engkau, besok engkau akan dibaringkan di kuburan sebagai rumahmu dan orang akan melemparimu dengan debu. Wahai AmirulMukminin, jika Allah menganugerahi seseorang kekayaan dan kekuasaan, lalu menggunakannya di jalan Allah dan menjaga tubuhnya dan seluruh inderanya dari perbuatan dosa, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang shaleh".

Tangis khalifah semakin menjadi lalu berkata "Engkau telah menasehatiku, aku ingin memberimu hadiah." Bahlul menjawab "Aku tidak ingin hadiah apapun darimu. Kembalikanlah semua itu kepada rakyat."

Di waktu lain, Khalifah menyapa Bahlul yang saat itu tengah duduk diatas kuburan, "Hai Bahlul, kau sudah waras atau masih majnun?" Mendengar sapaan Harun, Bahlul malah memanjat pohon yang ada disitu lantas berteriak dengan suara keras.

“Hai Harun, aku atau engkau yang majnun?”

“Hah, aku yang majnun? Kaulah yang setiap hari duduk di atas kuburan yang majnun”.

“Tidak. Akulah yang waras!” jawab Bahlul

“Kenapa begitu?” Khalifah bertanya

Bahlul menjawab : "Karena aku tahu istana dan kekuasaanmu (sembari menunjuk istana Harun) akan musnah. Dan di sini (menunjuk kuburan) adalah tempat yang abadi. Aku mempersiapkan diri di sini, sedangan engkau justru repot dengan istanamu yang kelak akan runtuh! Engkau enggan pindah dari istanamu menuju kuburan, sedangkan kau tahu di situlah kelak tempat kembalimu dengan pasti. Jadi siapa di antara kita yang majnun! wahai khalifah?" Tutur Bahlul.

Khalifah benar-benar tertohok. Hatinya bergetar membuatnya menangis hingga jenggotnya basah oleh air mata. “Demi Allah. Engkau benar wahai Bahlul.” Kata Khalifah.

Begitulah kebijaksanaan dan kelembutan hati Khalifah Harun Al Rasyid. Kekuasaan dan kekayaan tidak membuatnya lupa diri dan haus pujian. Justru ia sadar, dengan kekuasaan besar ditangannya orang akan memuji-mujinya. Mungkin karena takut atau mengharapkan sesuatu.

Padahal boleh jadi hal itu justru menjerumuskannya pada kesalahan dan dosa. Maka, Khalifah Harun justru mencari orang yang mau menasehatinya, sekeras dan sekasar apapun.

Khalifah sengaja menemui seorang ulama Abu Ali Syaqiq bin Ibrahim Al Azdi saat berhaji ke tanah suci.

"Wahai Syaqiq, nasehatilah aku," pintanya kepada ulama asal Baluchistan itu. Syaqiq lalu berkata:

"Engkau adalah mata air dan anak buahmu adalah alirannya. Apabila mata air itu jernih, ia tak tak tercemar karena kekeruhan aliran-alirannya. Apabila mata air itu keruh, apakah mungkin alirannya akan jernih”.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.