Di dalam Al Qur’an surah Saba ayat 16, terdapat kata-kata sailul ‘arim yang Allah umpamakan kepada penduduk negeri Saba yang kufur terhadap nikmat Allah. Ketika kita pelajari, baik secara etimologi maupun terminologi, kedua kata tersebut memiliki makna yang sangat penting untuk dihayati.
Kata Sailul berasal dari kata sāla, yasīlu, sailun, yang mengandung makna: mengalir, membanjir, menyebar dan meluas. Sedangkan lafaz ‘arim merupakan bentuk jamak dari ‘arimah yang bermakna: yang mengalir dengan deras, yang tidak terbendung, yang melampaui batas. Ia juga bermakna: hujan yang sangat deras. Makna lainnya adalah: tambak atau bendungan air dalam skala maksimum.
Ibnu Abbas, Qatadah, dan Ad-Dahhak mendefinisikan Sailul ‘Arim sebagai nama sebuah lembah yang berada di Yaman yang mengalir ke Makkah, yaitu sebuah lembah yang mengumpulkan air dari beberapa lembah lain, kemudian mereka membuat tambak untuk menahan air tersebut yang terletak di antara dua bukit. Mujahid, seorang mufassir lainnya, menafsirkan al-‘arim adalah yang deras, yaitu sifat bagi tambak penahan banjir yang menjadi sebab taman, rumah, dan bumi mereka, rusak ditenggelamkan air karena tambak itu tidak mampu menampung limpahan air yang ditentukan Allah karena kekufuran mereka.
Wahhab bin Munabbih al-Yamani mengatakan, "Allah telah mengutus kepada kaum Saba 13 orang nabi namun mereka mendustakannya, lalu Allah mengirim Sailul ‘Arim kepada mereka dan Allah hancurkan tambak penampung air yang mereka buat".
Kombinasi pendapat dari Ibnu Abbas, Wahhab bin Munabbih, Qatadah dan Ad-Dahhak menyimpulkan bahwa Allah memberi hukuman kepada mereka akibat kekufurannya dengan mengirim tikus-tikus untuk melubangi bendungan air tersebut sehingga pecah dan menenggelamkan taman, rumah, dan negeri mereka.
Demikianlah kuasa Allah kepada hamba-Nya, manakala sang hamba tak mengikuti perintah dan tidak meninggalkan larangan-Nya. Pelajaran semisal itu telah banyak terjadi di masa lampau, masa kini, dan kita yakin ia akan terus terjadi di masa mendatang manakala hamba Allah ingkar dan kufur terhadap ketentuan-Nya. Kita punya pengalaman hidup dengan banjir bandang di mana-mana, banjir tsunami di belahan dunia, dan tidak terlupakan dengan banjir karena curah hujan yang tinggi sehingga tak tertampung oleh aliran penampungan yang ada.

Kisah dan Penyebab Sailul 'Arim
Kisah Sailul ‘Arim dan efeknya yang terjadi di negeri Saba tertera dalam surah Saba ayat 15-17:

(15) Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun".
(16) Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.
(17) Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (Saba/34; 15-17)
Negeri Saba yang pernah diperintah oleh Ratu Balqis dan juga Nabi Sulaiman as merupakan negeri yang Makmur, terutama sekali dihiasi oleh dua kebun di sebelah kanan dan kiri yang berbuah lebat, sebagaimana kisah dalam surah Saba ayat 15. Allah menyuruh penduduknya untuk memakan buah-buahan dari kebun-kebun tersebut dan Allah perintahkan juga mereka untuk bersyukur atas segala nikmat tersebut. Allah menegaskan negeri Saba sebagai negeri yang baik dan Allah mengampuni mereka. Setelah lama mereka tunduk patuh atas perintah Allah, kemudian perlahan-lahan mereka kufur dengan nikmat yang Allah berikan tersebut. Maka melalui gigitan tikus-tikus, Allah pecahkan Bendungan ‘Arim yang membuat negeri Saba tenggelam total, Maghrib sebagai ibukotanya porak poranda, rakyatnya terkapar di mana-mana, di atas pepohonan, di atas bekas bangunan, di jalan, di pasar, dan di mana-mana.

Terkait dengan nama Saba, satu hadits Riwayat Ibnu Jarir yang disebutkan dalam Tafsir Ath-Thabari bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang nama Saba; Apakah ia nama negeri atau nama seorang perempuan? Rasulullah ﷺ menjawah: ia bukanlah nama negeri dan bukan pula nama seorang Perempuan, ia seorang lelaki yang mempunyai 10 orang anak, enam orang bermukim di Yaman (Kindah, Asy ‘Ariyyun, Al-Azd, Madhiz, Himyar, dan Anmar), dan empat orang bermukim di Syam (Lakham, Jadzam, ‘Amilah, dan Ghassan). Lelaki itu bertanya lagi: Siapa itu? Nabi ﷺ menjawab: orang yang melahirkan keturunan yang di antaranya Khats’a dan Bajilah.
Muhammad bin Ishak, seorang ulama Tarikh Islam mengatakan: nama asli Saba adalah ‘Abdusy Syams bin Yasyjab bin Ya’rab bin Qahthan. Ia dipanggil dengan sebutan Saba (menempuh perjalanan) karena dialah yang pertama kali berkelana di negeri Arab. Ia juga dijuluki Ar-Raisy karena dia yang pertama memperoleh rampasan perang dalam sebuah peperangan yang kemudian dibagikan kepada kaumnya.
Jalur kedudukan nasab Qahthan (Endatu Saba) diperselisihkan para ulama. Ada yang mengatakan ia adalah keturunan Iram bin Sam bin Nuh, ada pula yang mengatakan ia adalah keturunan ‘Abir (nama panggilan Nabi Hud), dan terakhir mengatakan ia merupakan keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim as. Namun, ada hadits yang menyatakan bahwa Saba itu adalah seorang lelaki berkebangsaan Arab yang hidup sebelum zaman Nabi Ibrahim as. Di dalam Tafsir Ibnu Katsir, dinyatakan bahwa Ghassan merupakan (nenek moyang Saba) yang merupakan salah satu sumber keturunan kaum Anshar di Madinah baik ‘Aus maupun Khazraj.
Negeri Saba merupakan negeri yang diberikan kesuburan tanah oleh Allah Swt, sehingga menghasilkan banyak buah-buahan, apalagi ketika Sailul ‘Arim itu berfungsi dengan baik, yang membuat negeri itu tidak pernah kekurangan air untuk tanaman di sana. Kesuburan dan kemakmuran buah-buahan di negeri Saba menjadi sesuatu yang luar biasa sebagaimana yang digambarkan Qatadah: seorang wanita berjalan di tepi dua kebun dengan memikul keranjang kosong di atas kepalanya. Sambil berjalan, ke atas keranjang kosong tersebut berjatuhan buah-buahan yang sudah masak tanpa perlu dipetik dan dipilih di bawah pohonnya, sehingga keranjang atas kepalanya penuh. Kemakmuran negeri Saba ini merupakan sesuatu yang luar biasa yang sulit ditandingi untuk kehidupan hari ini.
Negeri Saba bukan hanya terkenal dengan kemakmuran buah-buahannya, melainkan ia dikisahkan para ulama sebagai negeri yang tidak memiliki lalat, nyamuk, dan kutu. Jadi udaranya bersih dan kenyamanan masyarakat di sana sangat menenteramkan. Namun, apa yang terjadi kemudian ketika penduduknya mulai ingkar kepada Allah Swt, tidak lagi mengikuti perintah Allah, dan tidak lagi meninggalkan larangan-Nya sebagaimana tertera dalam surah Saba ayat 15-17? Bendungan ‘Arim tersebut dirobohkan Allah melalui gigitan tikus-tikus yang banyak sehingga bobol dan menerpa seluruh negeri Saba, yang membuat terjadi kehancuran dahsyat yang amat sangat luar biasa. Kata kuncinya, manusia ketika lama hidup dalam kenikmatan sering lupa kepada arahan dan larangan Tuhan, maka berakhirlah mereka dengan kehancuran.

Pelajaran Penting untuk Manusia
Mengikut pemahaman dan pengalaman yang ada, musibah itu datang lebih didominasi oleh faktor keingkaran kepada Allah (faktor ‘aqidah) serta kezaliman dan kemaksiatan sesama makhluk Allah (faktor akhlak/moral). Itulah yang terjadi terhadap kaum nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ. Banjir besar yang melanda kaum Nabi Nuh dan mematikan semua mereka kecuali para pengikut Nabi Nuh saja yang selamat, dikarenakan mereka enggan bertuhan kepada Allah sebagaimana terkisah dalam Surah Nuh ayat 5-7 dan Surah Al-‘Ankabut ayat 14 (faktor ‘aqidah). Banjir ‘Arim yang menghanyutkan penduduk negeri Saba disebabkan oleh mereka lupa dan lalai kepada aturan Allah seperti gambaran Al Qur’an Surah Saba ayat 15-17 (faktor ‘aqidah dan akhlak).
Kehancuran kaum Nabi Luth yang homoseksual disebabkan oleh kegemaran penyaluran seks sesama lelaki dengan membiarkan kaum wanita tidak mau dinikahi seperti tergambar dalam Surah Hud ayat 82-83, Surah Hijr ayat 73-74, dan Surah Asy-Syu’ara ayat 173-174 (faktor akhlak); kehancuran Fir’aun bersama pengikutnya yang tenggelam dalam Laut Merah karena mengangkat dirinya sebagai Tuhan sebagaimana dikisahkan dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 65-68 (faktor ‘aqidah); kematian Raja Namrud yang diserang dan diserbu tentara-tentara lalat karena menolak beriman kepada Allah dan mengangkat dirinya sebagai Tuhan, lihat Al-Baqarah ayat 258 (faktor ‘Aqidah); kehancuran kaum ‘Ad di zaman Nabi Hud dengan angin kencang yang sangat dingin sekali selama tujuh hari delapan malam membuat mereka mati terkapar tanpa pertolongan, karena menyembah berhala dan menolak beriman kepada Allah sebagaimana dikisahkan dalam surah Al-Haqqah ayat 6-8 (faktor ‘aqidah).
Kehancuran kaum Nabi Shalih (kaum ‘Ad) yang melanggar larangan Allah untuk tidak membunuh unta yang Allah keluarkan dari dalam batu sebagai mukjizat Nabi Shalih, lalu Allah datangkan gempa bumi dan petir yang mengguntur yang membuat mereka terkapar satu per satu tidak berdaya untuk mempertahankan hidupnya, sebagaimana yang tertera dalam Al Qur’an surah Hud ayat 67 dan surah Al-Haqqah ayat 4-5 (faktor ‘aqidah dan akhlak).
Kisah kaum Madyan yang Allah utuskan Nabi Syu’aib untuk berdakwah kepada mereka, namun mereka menolak dakwah tersebut, tidak mau beriman kepada Allah, suka mengurangi timbangan dalam perniagaan, sengaja menimbun barang-barang keperluan masyarakat untuk dijual lebih mahal, suka mengganggu orang-orang beriman. Allah menghancurkan mereka dengan gempa bumi, suara langit yang sangat keras, hawa panas yang mematikan, dan hujan api yang tak dapat ditahan sebagaimana yang terkandung dalam Al Qur’an Surah Hud ayat 94-95 (faktor ‘aqidah dan akhlak). Demikian juga dengan kehancuran kaum Bani Israil yang sangat banyak ceritanya dalam Al Qur’an disebabkan oleh faktor ‘aqidah dan akhlak.

Dari sejumlah kisah nyata yang tertera dalam kitab suci Al Qur’an tersebut, wajiblah kepada umat manusia untuk beriman kepada Allah semata dengan memeluk agama Islam sebagai agama benar di sisi Allah. Cukuplah Rasulullah ﷺ sebagai pembawa kebenaran yang dijadikan rujukan untuk menyembah Allah dan berbaik-baik sesama makhluk Allah di alam dunia. Cukuplah Pelajaran demi Pelajaran yang Allah berikan kepada manusia dalam perjalanan hidupnya seperti banjir bandang, banjir tsunami, longsor gunung berapi, gempa bumi, musim kemarau yang mematikan, dan seumpamanya.
Jika semua itu masih tidak mau dijadikan rujukan dan pelajaran, maka umat ini tak berbeda dengan kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Shalih, kaum Nabi Syu’aib, kaum Nabi Luth dan kaum-kaum lain, baik yang sudah kita sebutkan di atas tadi maupun yang tidak. Yakinilah wahai umat manusia, lewat kisah-kisah yang tertera dalam Al Qur’an mulia, Allah masih sanggup melakukannya sebagaimana telah dilakukan terhadap kaum-kaum terdahulu. Banjir bandang yang kerap terjadi sekarang merupakan manifestasi lain dari apa yang pernah terjadi terhadap kaum Nabi Nuh dan kaum Saba. Gempa bumi yang kerap terjadi dalam hidup ini merupakan refleksi ulang dari apa yang sudah pernah Allah turunkan kepada kaum Hud, ‘Ad dan kaum Tsamud.
Untuk itu semua, jadikanlah hidup ini sebagai ajang mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya sebagai modal utama keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. Hanya orang-orang yang beriman, beramal shalih, berpengetahuan, dan punya niatan sajalah, yang mampu membaca dan menghayati segala perumpamaan yang telah Allah turunkan dan tertera di dalam Al Qur’an.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!



