Khalifah dan Nenek Tua Sebatang Kara

Khalifah dan Nenek Tua Sebatang Kara
Khalifah dan Nenek Tua Sebatang Kara / Foto : Istimewa

Di dalam kitab Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir, dikisahkan, suatu hari Umar bin Khattab melihat seorang nenek tua yang hidup dalam kemiskinan. Seluruh keluarganya telah wafat. Tak ada lagi yang membantu atau mengurus kebutuhannya.

Suatu ketika, Umar datang dengan niat memberikan bantuan semampunya. Namun, setibanya di sana, ia mendapati sesuatu yang tak terduga. Makanan telah tersedia dan siap disantap, pakaian nenek itu bersih, dan rumahnya sudah tertata rapi.

Umar pun bertanya-tanya, siapa yang mengurus semua itu. Nenek tua tersebut lantas memberitahu bahwa ada seseorang yang rutin datang membantu setiap hari.

Hari-hari berikutnya, Umar kembali dengan harapan bisa mengambil peran membantu. Namun, kesempatan itu tak pernah ia dapatkan. Ia datang lebih pagi, orang itu sudah selesai. Ia datang lebih dini lagi, orang itu tetap lebih dulu.

Jor-joran di Jalan Allah
Ramadhan ini adalah momentum untuk berlomba dalam kebaikan. Sebagaimana para sahabat terdahulu berkompetisi dalam amal, jadikan bulan mulia ini sebagai ajang memperkuat semangat berbagi, memperbanyak sedekah, dan menghadirkan manfaat nyata bagi sesama

Akhirnya, seusai salat Subuh, Umar memutuskan menunggu dan mengamati dari kejauhan. Ia ingin mengetahui siapa gerangan yang diam-diam melakukan kebaikan itu. Ternyata, yang ia lihat adalah khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, sang pemimpin negara. Setelah shalat Subuh, tasbih, dan zikir, Khalifah Abu Bakar membawa makanan menuju rumah nenek tua tersebut. Ia membersihkan rumah, menyapu, mencuci, dan memastikan semua kebutuhan sang nenek terpenuhi, tanpa diketahui banyak orang.

Melihat itu, Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu, wahai Abu Bakar.

Wahai, umat terbaik yang dimuliakan Allah. Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia memuat pelajaran yang sangat berharga. Tentang seorang pemimpin yang sigap mengurus rakyatnya. Pemimpin yang hadir membantu tanpa diminta, dan melindungi mereka yang lemah tanpa menunggu sorotan kamera.

Ia juga menggambarkan tentang bagaimana orang-orang terdahulu berlomba-lomba dalam kebaikan. Sikap yang mereka tunjukkan disebut ghibthah, keinginan tulus untuk menjadi baik di antara orang-orang yang baik. Persaingan mereka bukan untuk popularitas, tetapi untuk meraih pahala dan ridha dari Allah Swt.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh memperoleh surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS Al-Kahf [18]:107).

Wallahu a'lamu.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.