Di Tengah Luka Aceh Tamiang, Senyum Coba Terus Dihadirkan

Di Tengah Luka Aceh Tamiang, Senyum Coba Terus Dihadirkan
Di Tengah Luka Aceh Tamiang, Senyum Coba Terus Dihadirkan/Foto:Istimewa

Bencana banjir yang melanda Aceh Tamiang tidak hanya meninggalkan kerusakan pada rumah dan infrastruktur, tetapi juga meninggalkan luka batin yang dalam bagi masyarakat. Terutama untuk anak-anak. Di tengah kondisi desa yang masih terisolasi, keterbatasan akses, serta fasilitas umum yang belum pulih, proses pemulihan pascabencana menjadi perjuangan panjang yang harus dilalui bersama.

Hal itu terlihat pada 6 Januari 2026, ketika para relawan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) kembali hadir di wilayah terdampak. Mereka melakukan kegiatan dukungan psikososial bagi anak-anak di Desa Pantai Tinjau, Aceh Tamiang. Kegiatan itu dilaksanakan langsung di lokasi bencana sebagai bentuk komitmen BSMI untuk tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga mendampingi masyarakat secara psikologis dan emosional.

Bukan perjalanan yang mudah untuk menuju Desa Pantai Tinjau. Mereka harus menembus desa dengan akses yang terbatas, melewati jalur-jalur yang rusak akibat banjir, serta menyusuri wilayah yang masih dikelilingi genangan air. Namun, kesulitan itu tak lantas menyurutkan langkah para relawan untuk sampai dan membersamai warga secara langsung.

Setibanya di lokasi, suasana yang awalnya sunyi perlahan berubah. Anak-anak menyambut kehadiran relawan dengan wajah penuh rasa ingin tahu, yang lalu berangsur menjadi antusias ketika kegiatan dukungan psikososial dimulai. Berbagai permainan, interaksi ringan, dan aktivitas kelompok, membuat senyum dan tawa kembali terdengar, menghadirkan suasana hangat di tengah kondisi desa yang masih dalam masa pemulihan.

Dokumentasi relawan bermain dengan anak-anak korban pascabencana

Dukungan psikososial pascabencana memiliki peran penting dalam membantu anak-anak melepaskan rasa takut, cemas, dan tekanan psikologis akibat bencana. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan penuh empati, anak-anak diajak untuk kembali merasa aman, berani mengekspresikan diri, serta merasakan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi kondisi ini.

Kehangatan tidak hanya terpancar dari anak-anak, tetapi juga dari para orang tua dan warga desa. Semangat serta keteguhan warga Desa Pantai Tinjau justru menghadirkan keteduhan bagi para relawan. Di balik kehilangan rumah dan keterbatasan hidup, warga tetap menyambut mereka dengan senyum, lalu berbagi cerita dan menunjukkan rasa syukur yang tulus. Sikap inilah yang membuat suasana menjadi teduh dan menenangkan hati siapa pun yang hadir di tengah mereka.

Salah seorang warga, Ibu Siti Hajar, menyampaikan rasa haru dan terima kasih atas kehadiran relawan yang turun langsung ke lokasi terdampak. “Kami senang jika ada relawan melakukan hal seperti ini. Langsung datang ke lokasi. Bukan orang ngasih bantuan tetapi nggak turun dari mobil. Sedih hati kita melihat anak-anak kita seperti pengemis. Kami cuma pingin makan saja, lho, mbak,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Usai melaksanakan kegiatan dukungan psikososial dan pendampingan di Desa Pantai Tinjau, tim relawan BSMI melanjutkan perjalanan menggunakan perahu menuju Desa Sakrak Kanan. Akses menuju desa tersebut hanya dapat ditempuh melalui jalur air, menyusuri sungai yang masih menyimpan jejak banjir. Sungai itu menjadi satu-satunya jalan bagi warga maupun relawan untuk menuju ke desa tersebut.

Dokumntasi relawan menuju Desa Sakrak

Kondisi di Desa Sakrak Kanan terbilang lebih memrihatinkan. Hingga hari ini, pasokan listrik belum pulih sepenuhnya. Listrik hanya menyala selama tiga jam, dari pukul 07.00 hingga 10.00 pagi. Keterbatasan ini membuat aktivitas warga semakin sulit, terutama di malam hari.

Di desa tersebut, relawan BSMI menyalurkan berbagai bantuan, berupa alat kebersihan, Al Qur’an, sembako, karpet, serta kebutuhan dasar lainnya. Bantuan ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai penguat spiritual dan semangat kebersamaan warga dalam menghadapi masa pemulihan.

Di tengah segala keterbatasan, senyum, tawa, dan keteguhan warga Aceh Tamiang menjadi sumber kekuatan tersendiri — baik bagi sesama warga maupun bagi para relawan yang hadir. Melalui rangkaian kegiatan kemanusiaan ini, BSMI berharap seluruh wilayah terdampak dapat segera pulih, dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih layak, aman, serta bermartabat.

Artikel ini adalah hasil liputan Sabili.id langsung dari Aceh, sebagai bagian dari program “Jurnalisme Kemanusiaan Sabili.id di Aceh”.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.