Ironi Pendidikan di Indonesia, Masihkah Pendidikan Jadi Harapan Bagi Anak Miskin?

Ironi Pendidikan di Indonesia, Masihkah Pendidikan Jadi Harapan Bagi Anak Miskin?
Ironi Pendidikan di Indonesia, Masihkah Pendidikan Jadi Harapan Bagi Anak Miskin?/foto:Istimewa

Kita selalu menyebut pendidikan sebagai harapan. Sebuah jalan kemerdekaan dari kemiskinan dan ketidakadilan. Namun, bagi seorang anak berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur, harapan itu justru berhenti di titik yang paling menyakitkan. Ia meninggal setelah permintaan kecilnya tentang buku tulis dan pena tak sanggup dipenuhi keluarganya. Nilainya sekitar Rp 10.000. Jumlah yang hampir tak pernah kita hitung, tetapi menjadi batas yang terlalu berat bagi seorang anak untuk dipikul sendirian.

Anak itu berinisial YBS. Ia siswa sekolah dasar yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi serius. Beberapa hari sebelum kepergiannya, YBS meminta kepada orang tuanya agar dibelikan buku tulis dan pena untuk keperluan sekolah. Ia ingin belajar. Ia ingin mengikuti pelajaran seperti teman-temannya. Namun, kondisi ekonomi keluarga membuat permintaan itu belum bisa dipenuhi.

Saat ia meminta uang kepada ibunya untuk keperluan dia membeli buku dan pena seharga Rp 10.000, ibunya menjawab bahwa mereka tak punya uang. Di dalam tekanan batin yang tak seharusnya dialami anak seusianya, YBS kemudian ditemukan meninggal dunia. Ini adalah tragedi kemanusiaan. Kepergian YBS meninggalkan duka mendalam, sekaligus pertanyaan besar yang sulit kita abaikan.

Sepuluh ribu rupiah! Jumlah yang sering kita habiskan tanpa berpikir dua kali. Namun, bagi sebagian keluarga di negeri ini, angka tersebut adalah batas yang nyata. Kisah YBS memperlihatkan bahwa bagi anak-anak dari keluarga miskin, akses pendidikan tidak selalu tentang bangku sekolah atau gedung kelas. Ia sering kali terhenti pada hal-hal paling dasar: buku, pena, dan rasa aman untuk belajar tanpa merasa menjadi beban bagi orang tua.

Mengulik Kematangan Literasi dan Variabel Pendidikan yang Hilang
Wajah pendidikan kita selalu diwarnai hal-hal mengejutkan di seputar polemik guru dan siswa. Hal ini kian sering terjadi dalam 10 tahun terakhir. Polemik guru dan siswa di Indonesia mencerminkan krisis nilai dan komunikasi di dalam sistem pendidikan.

Kemiskinan bekerja dengan cara begitu kejam. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk kelaparan ekstrem, tetapi merayap ke dalam pikiran, menekan perasaan, dan perlahan merampas harapan. Anak-anak seperti YBS dipaksa memahami keterbatasan ekonomi keluarga jauh sebelum waktunya. Mereka belajar menahan keinginan, menurunkan mimpi, dan memikul rasa bersalah hanya karena ingin bersekolah dengan layak. Di tengah kondisi seperti ini, pendidikan rasanya seperti ruang yang penuh tekanan.

Peristiwa ini terjadi di tengah besarnya klaim negara atas komitmen pendidikan. Di dalam RAPBN 2026, total anggaran pendidikan Indonesia mencapai sekitar Rp 757,8 triliun. Angka yang kerap disebut sebagai bukti keseriusan negara membangun sumber daya manusia. Namun dari jumlah tersebut, sekitar Rp 335 triliun atau hampir 44 persen dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang penting, namun porsinya yang sangat dominan memunculkan pertanyaan apakah kebutuhan paling dasar dalam pendidikan telah benar-benar aman?

Negara juga mengalokasikan dana sekitar Rp 17 triliun untuk kontribusi dalam forum Board of Peace, sebagai bagian dari peran global dan diplomasi internasional. Kebijakan tersebut memiliki tujuan dan konteksnya sendiri. Namun, ketika dibandingkan dengan realitas di lapangan tentang “seorang anak yang kehilangan nyawa karena buku dan pena”, perbandingan ini terasa menyakitkan.

Tidak bermaksud untuk meniadakan pentingnya peran global atau program gizi, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada kebutuhan yang jauh lebih dekat, lebih mendesak, dan lebih mendasar.

Bullying, Potret Buram Dunia Pendidikan Indonesia: Anak Miskin Dilarang Sekolah!
Riset KPAI tahun 2024 mencatat lebih dari 2.300 laporan kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan. Data UNICEF dan KPAI tahun 2022 menunjukkan, Indonesia termasuk lima besar negara dengan bullying tertinggi di dunia. Pendidikan Indonesia menghadapi krisis moral serius.

Pendidikan adalah hak konstitusional setiap warga negara. Namun, hak itu kehilangan makna ketika masih ada anak yang merasa terhalang belajar karena biaya sekecil apa pun. Tantangan pendidikan tidak berhenti pada penyediaan sekolah atau kurikulum, tetapi pada kemampuan negara memastikan bahwa anak-anak dari keluarga miskin tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tekanan ekonomi dan psikologis.

Kisah YBS bukan sekadar tragedi individual. Ia adalah cermin dari persoalan struktural yang masih belum terselesaikan. Ia menunjukkan bahwa di balik angka-angka besar dalam dokumen anggaran, masih ada anak-anak yang hidup di tepi sistem. Anak-anak yang ingin belajar, tetapi tidak memiliki perlindungan ketika keterbatasan ekonomi menghimpit mereka.

Kabar duka ini seharusnya menggugah kita semua. Bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan tidak diukur dari besarnya anggaran semata, tetapi dari sejauh mana anggaran itu mampu menjangkau mereka yang paling rentan. Selama masih ada anak yang merasa putus asa hanya karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, maka kehadiran negara dalam pendidikan belum sepenuhnya nyata.

YBS telah pergi. Ia tidak sempat merasakan pendidikan yang adil dan aman. Namun, kisahnya seharusnya tidak berlalu begitu saja. Ia adalah pengingat yang pahit bahwa memastikan tidak ada lagi anak yang kehilangan masa depan karena kemiskinan, yang seharusnya menjadi kewajiban negara dalam melindungi rakyatnya dan juga kewajiban moral kita bersama.

Guna Wujudkan Pendidikan Berkualitas dan Berkeadilan, IDEAS Dorong Revisi UU Sisdiknas
IDEAS dan Great Edunesia mendorong segera disahkannya UU Sisdiknas yang baru, menggantikan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. IDEAS pun berharap, masukan mereka dapat menjadi bagian penting dari dialog nasional.

YBS, negeri ini tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari kepergianmu karena sistem yang dibangunnya gagal memastikan anak seusiamu merasa aman untuk sekadar meminta alat tulis dan melanjutkan mimpinya. Ketika pendidikan dijanjikan sebagai hak, tetapi dalam praktiknya masih menyisakan beban psikologis sedalam itu bagi anak-anak miskin, maka ada kesalahan yang tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga atau keadaan. 

Di dalam batas tertentu, negeri ini berutang kepadamu. Utang berupa kegagalan menghadirkan perlindungan, kepekaan, dan keadilan, yang seharusnya paling dulu dirasakan oleh mereka yang paling lemah. Kepergianmu adalah pengingat pahit bahwa di balik kebijakan dan anggaran, masih ada celah besar yang membuat anak-anak jatuh sendirian tanpa pegangan. 

Istirahatlah dengan tenang, Nak. Negeri ini masih berutang kepadamu..

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.