Muhammadiyah 111 Tahun Mendidik dan Menyehatkan Indonesia

Muhammadiyah 111 Tahun Mendidik dan Menyehatkan Indonesia
Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. / Foto Istimewa

Milad Muhammadiyah diperingati setiap tanggal 18 November dan tahun 2023 ini adalah milad ke-111. Di milad ke-111 ini, Muhammadiyah mengusung tema “Ikhtiar Menyelamatkan Semesta”. Seperti dikutip muhammadiyah.or.id, setidaknya tema “Ikhtiar Menyelamatkan Semesta” itu terkait dengan tiga hal, yaitu pandangan Muhammadiyah tentang Islam; karakter dan watak organisasi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid; serta pandangan Muhammadiyah terkait problem-problem multidimensional, semisal krisis kemanusiaan, kemiskinan struktural, degradasi ekologi, konflik dan peperangan, hukum dan hak asasi manusia, serta berbagai hal lainnya.

Pada 111 tahun yang lalu, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Kampung Kauman, Yogyakarta, 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah atau 18 November 1912. Ketika itu, KH Ahmad Dahlan adalah pegawai di Kraton Yogyakarta. Jabatannya adalah khatib di Masjid Kauman, Kraton Yogyakarta. Selain itu, KH Ahmad Dahlan juga berprofesi sebagai pedagang.

Muhammadiyah awalnya berdiri sebagai muara dari kegelisahan KH Ahmad Dahlan melihat kondisi Muslim di Indonesia saat itu. Waktu itu, kaum muslim di sekitar Kiai Dahlan masih banyak melakukan hal-hal yang bersifat mistis. Bercampurnya ajaran Islam dengan unsur klenik dan mistik dalam praktik hidup kaum muslim waktu itu lantas menggerakkan hati Kiai Dahlan untuk mengajak dan membawa mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya, yaitu berdasarkan Al Qur’an dan Hadits.

Di tengah kesibukan sebagai khatib dan pedagang, KH Ahmad Dahlan mulai menjalankan dakwah dan mengajarkan ilmu-ilmu agama yang sebenarnya. Tempatnya di rumahnya di Kauman. Awalnya, ajaran dakwah yang disebarkan Kiai Dahlan itu mendapat penolakan Masyarakat. Namun, ketekunan dan kesabaran Kiai Dahlan membuat ajaran tersebut akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekat beliau. Apalagi, profesi Kiai Dahlan sebagai pedagang memungkinkan beliau bertemu dan berbincang dengan banyak orang. Aktivitas itu sangat mendukung kegiatan beliau berdakwah.

Baca juga: Muhammadiyah Serahkan Bantuan dari Rakyat Indonesia untuk Palestina

Lewat jalan itu, Kiai Ahmad Dahlan kian menyebarkan ajarannya. Sehingga, tak lama kemudian, ajakan dia menyebar ke luar Kampung Kauman. Lalu berlanjut sampai ke luar daerah, bahkan hingga ke luar Pulau Jawa. Selanjutnya, Kiai Ahmad Dahlan pun mendirikan Persarikatan Muhammadiyah sebagai wadah untuk mengorganisasikan kegiatan dakwah tersebut. Tepatnya tanggal 18 November 1912, Muhammadiyah resmi didirikan.

Gagasan mendirikan Muhammadiyah dan menjadikannya sebagai sebuah organisasi adalah buah diskusi KH Ahmad Dahlan dengan rekan-rekannya dari organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo. Di antaranya adalah R Budiharjo dan R Sosrosugondo. Nama “Muhammadiyah” mulanya diusulkan oleh kerabat yang juga sahabat KH Ahmad Dahlan. Namanya Muhammad Sangidu. Ia adalah seorang penghulu di Kraton Yogyakarta. KH Ahmad Dahlan lantas melakukan sholat istikharah sebelum kemudian memutuskan memberikan nama “Muhammadiyah” untuk persarikatan yang ia dirikan itu. KH Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 sampai tahun 1922.

Sumbangsih untuk Pendidikan

Kini, Muhammadiyah telah ada di seluruh pelosok tanah air. Keberadaan Muhammadiyah telah tersebar di seluruh 34 provinsi di Indonesia saat ini. Yang khusus, Muhammadiyah yang kini merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia telah turut berperan dalam membangun pendidikan nasional. Bahkan, rasanya kita tidak bisa bicara tentang dunia Pendidikan di Indonesia tanpa menyebut nama Muhammadiyah. Sebab, faktanya adalah ribuan sekolah telah didirikan dan dioperasikan oleh Muhammadiyah di usianya yang kini telah lebih dari satu abad.

Seperti dilansir dikdasmenppmuhammadiyah.org, saat ini jumlah Sekolah Muhammadiyah adalah 7.957 sekolah yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Jumlah itu meliputi 4.623 TK/TPQ; 1.094 SD; 1.128 SMP; 558 SMA; dan 554 SMK. Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki jenjang pendidikan perguruan tinggi. Dikutip dari umco.ac.id, saat ini terdapat 171 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA), yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, bahkan ada yang di luar negeri.

Sesungguhnya, Sekolah Muhammadiyah bahkan telah ada sejak organisasi Muhammadiyah sendiri belum resmi berdiri. Sebab, munculnya sekolah Muhammadiyah dapat dihitung sejak KH Ahmad Dahlan pertama kali mendirikan “Sekolah Agama Modern” bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI), pada 1 Desember 1911.

Baca juga: Muhammadiyah Mendesak PBB Agar  Israel-Palestina Melakukan Gencatan Senjata dan Perundingan Damai

Setelah lebih dari satu abad, kini ribuan sekolah dibangun Muhammadiyah, dengan menekankan pada pendidikan agama. Sehingga, kurikulum yang Muhammadiyah usung di sekolah-sekolah mereka berbeda dari sekolah kebanyakan. Khususnya sekolah negeri.

Lebih dari Seratus Rumah Sakit

Tahun ini, Muhammadiyah telah berusia 111 tahun. Selama rentang waktu tersebut, langkah yang dilakukan Muhammadiyah mencakup upaya penyadaran perubahan nasib dan mengakomodasi hak sehat, hak cerdas, hak untuk memperoleh pendidikan, serta hak berdialog langsung dengan kitab suci. Singkatnya, Muhammadiyah senantiasa berusaha menempatkan kegiatan mereka sebagai pondasi infrastruktur kebangsaan.

Muhammadiyah juga berperan penting dalam menjaga kesehatan masyarakat. Wujudnya adalah dengan mendirikan rumah sakit sebagai fasilitas Kesehatan bagi masyarakat. Selain itu, mereka juga berupaya menggerakkan umat untuk hidup sehat.

Menurut umy.ac.id, sekarang Muhammadiyah telah memiliki 105 rumah sakit di Indonesia. Rumah Sakit Muhammadiyah tersebut dinamakan Rumah Sakit Pembinaan Kesejahteraan Umat (RS PKU) Muhammadiyah. Di awal didirikannya, RS PKU Muhammadiyah merupakan sebuah klinik sederhana dengan nama PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem). Maksud awal pendiriannya adalah menyediakan pelayanan kesehatan bagi kaum dhuafa.

Adalah KH Sudja’ yang menjadi tokoh di belakang layar lahirnya RS PKU Muhammadiyah. Bermula dari mimpi KH Sudja’ untuk membangun fasilitas Kesehatan yang dimanfaatkan bagi pemuliaan martabat manusia. KH. Sudja’ sendiri bersama H Zaini, Ki Bagus Hadikusumo, dan KH Fakhruddin, adalah empat tokoh yang menjadi generasi pertama Persarikatan Muhammadiyah yang ikut berjuang bersama KH Ahmad Dahlan. Pada 1938, KH Sudja’ berhasil menginisiasi berdirinya klinik PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem). Terus berkembang dari masa ke masa, hingga sekarang Muhammadiyah telah memiliki 105 rumah sakit.

Selamat untuk Muhammadiyah. Semoga terus berada di jalurnya untuk menjaga kesinambungan dalam mengembangkan tata kelola dalam hal perkhidmatan keumatan, perkhidmatan kebangsaan, perkhidmatan kemanusiaan, perkhidmatan global, dan perkhidmatan masa depan. Serta mampu menggerakkan jutaan orang untuk berteguh hati dan bersepakat pada misi Risalah Islam Berkemajuan.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.