Sabili.id berjumpa dengan Bu Ainul — Ainul Mardiah Lubis — pada 3 Januari 2026 di Masjid Syuhada, masjid yang berada di jantung Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Perjumpaan itu berlangsung usai shalat Jumat, di tengah lalu-lalang jamaah yang perlahan meninggalkan masjid. Pertemuan singkat namun membuka kisah panjang tentang dampak bencana yang hingga kini masih dirasakan warga.
Saat itu, Bu Ainul tengah menunggu suaminya yang sedang menunaikan shalat Jumat. Sabili.id kemudian berbincang langsung dengannya. Dengan suara yang terdengar sarat lelah, Bu Ainul mulai menceritakan kondisi rumahnya.
“Rumah kami masih berlumpur,” katanya membuka percakapan.
Bu Ainul adalah seorang guru di SMA Negeri 1 Kejuruan Muda, salah satu sekolah menengah terbaik di Aceh Tamiang. Sehari-hari, ia terbiasa mendidik dan membersamai para siswa di ruang kelas. Namun pascabencana, peran itu bertambah: ia juga harus berjuang sebagai warga terdampak, memastikan keluarganya tetap bertahan di tengah kondisi yang belum pulih.
Sebagai pendidik, bencana itu juga meninggalkan luka lain yang tak kalah dalam. Bukan hanya rumah yang terdampak, tetapi juga kenangan dan kerja kolektifnya bersama para murid di sekolah.
Kepada Sabili.id, Bu Ainul menceritakan, beberapa hari sebelum banjir dan lumpur datang, ia bersama para murid sedang menyelesaikan sebuah karya untuk peringatan Hari Guru.
“Empat hari ibu membuatnya bersama murid di sekolah,” tuturnya. “Saat itu angin kencang, cuaca gelap, hujan lebat, tetapi kami tetap menyelesaikannya.”

Karya tersebut mereka buat dengan penuh semangat, menjadi simbol kebersamaan guru dan murid. Namun, semua itu tak bertahan lama. Beberapa hari kemudian, banjir lumpur datang dan merenggutnya.
“Namun semua habis terkena banjir lumpur,” ucap Bu Ainul lirih. “Semuanya hancur.”
Bu Ainul tinggal di Perumahan BTN Mutiara Residence, Kampung Durian, Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Hingga saat perjumpaan kami berlangsung, lumpur masih menggenang di dalam rumahnya. Ia menjelaskan, lumpur yang masuk ke rumah itu bukan sekadar sisa, melainkan masih cukup tinggi dan menyulitkan aktivitas sehari-hari.
“Untuk saat ini hampir setengah meter tebal lumpur di dalam rumah,” kisahnya.
Kondisi di luar rumah tak kalah memrihatinkan. Akses jalan menuju rumah — yang oleh warga dikenal sebagai jalur TPI — masih tertutup lumpur basah. Jalan tersebut belum bisa dilalui dengan nyaman. Hal itu membuat mobilitas warga menjadi terbatas.
“Kami rindu rumah, tetapi jalan masuk menuju rumah masih berlumpur dan basah. Di halaman rumah kami, tingginya hampir satu meter, dan di dalam rumah lebih kurang setengah meter,” lanjutnya.
Sebagai seorang guru, Bu Ainul mengaku kondisi itu bukan hanya berdampak pada tempat tinggal, tetapi juga pada aktivitas dan kesiapan mental untuk kembali beraktivitas secara normal. Rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru masih menjadi sumber kekhawatiran.
Di dalam perbincangan itu, Bu Ainul menyampaikan harapan warga yang hingga kini belum terjawab sepenuhnya. Menurut dia, penanganan lumpur membutuhkan bantuan alat berat agar pembersihan dapat dilakukan secara menyeluruh dan tidak berlarut-larut.
“Kami berharap ada bantuan alat berat seperti beko untuk membersihkan lumpur,” katanya.
Beko yang dimaksud Bu Ainul itu adalah sebutan populer di masyarakat untuk alat berat bernama excavator atau backhoe yang berfungsi untuk menggali tanah, membuat parit atau saluran, maupun mengangkat material yang berat dan besar.

Bu Ainul menyebut, selain persoalan lumpur, kebutuhan akan air bersih juga menjadi masalah serius. Menurut Bu Ainul, hingga kini warga masih kesulitan mendapatkan pasokan air bersih yang layak. Terutama bagi mereka yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
“Warga juga sangat membutuhkan sumur bor untuk membantu air bersih — baik untuk kebutuhan sehari-hari, MCK, maupun untuk tempat shalat berjamaah,” ujarnya.
Kekhawatiran Bu Ainul semakin terasa ketika ia menyinggung waktu yang terus berjalan. Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari, sementara kondisi lingkungan masih belum sepenuhnya memungkinkan bagi warga untuk menjalani ibadah dengan tenang dan layak.
“Semoga musibah ini cepat ditanggulangi, karena sebentar lagi akan masuk bulan Ramadhan,” ucapnya dengan nada penuh harap.
Perjumpaan Sabili.id dengan Bu Ainul itu menjadi gambaran nyata bahwa bencana adalah sesuatu yang harus segera diatasi. Lumpur yang tertinggal, akses yang terputus, serta kebutuhan dasar yang belum terpenuhi, menjadi beban berlapis bagi warga. Di tengah peran Bu Ainul sebagai pendidik, ia juga harus menghadapi kenyataan sebagai korban bencana yang masih menunggu pemulihan.
Di Kuala Simpang, seperti di banyak wilayah lainnya yang terdampak, waktu seolah berjalan lebih lambat. Namun, harapan tetap dijaga. Bu Ainul dan warga Aceh Tamiang pun terus menanti kehadiran bantuan yang konkret — agar rumah kembali menjadi tempat pulang. Dan Ramadhan dapat disambut dengan lebih layak dan bermartabat.
Artikel ini adalah hasil liputan Sabili.id langsung dari Aceh, sebagai bagian dari program “Jurnalisme Kemanusiaan Sabili.id di Aceh”.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!