Seruan Aksi Bela Al-Aqsa

Seruan Aksi Bela Al-Aqsa
Para peserta "Aksi Bela Aqsha" di lapangan Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan - 15 Oktober 2023 / Ahmad Djunaedi (Sabili.id)

Lapangan Masjid Al-Azhar Jakarta Selatan Ahad (15/10) berkibar ribuan bendera Palestina diantara kibaran bendera Merah Putih. Ada sepuluh ribuan orang yang hadir sebagai bentuk dukungan Aksi Bela Al-Aqsa dari masyarakat Indonesia, wabil khusus lembaga-lembaga kemanusiaan dan Ormas Islam, dan terlihat hadir perwakilannya di panggung orasi.

Diinisiasi Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis, Aksi itu dilakukan mengingat sampai hari ke delapan ini Gaza dibombardir terus menerus oleh penjajah Zionis Israel. Sehingga masyarakat sipil Gaza tepaksa mengevakuasi diri dari daerahnya. Sementara dunia internasional diam, tidak satupun atas nama negara memberi bantuan militer secara terang-terangan kepada Palestina. Padahal Amerika Serikat secara terang-terangan telah mengirim Kapal Induk militer, persenjataan dan uang kepada Zionis Israel.

“Karenanya kami bersatu mendukung masyarakat Palestina secara kemanusiaan, dan upaya hukum internasional, sebagai amanah konstitusi Pembukaan Undang-undang Dasar 45, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Karenanya kita mengakui kemerdekaan dan kedaulatan negara Palestina,” Papar Ustadz Bakhtiar Natsir, koordinator Aksi Bela Al-Aqsa, dalam kesempatan wawancara.

Baca Juga : Hubungan Emosional Indonesia dan Palestina

Bakhtiar  Natsir atas nama lembaga-lembaga kemanusiaan dan Ormas Islam itu, menuntut kepada mayarakat dunia internasional, agar menyuarakan dan berjuang untuk menghentikan genosida oleh zionis Israel. Beliau juga menghimbau kepada PBB dan komunitas mayarakat internasional untuk bersatu menyuarakan telah terjadi pembantaian kemanusiaan, etnik, bahkan pembantaian bangsa Palestina.

“Kita berterimakasih kepada pemerintah Indonesia yang sejak awal konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Dan yang paling dibutuhkan saat ini adalah bantuan kemanusiaan berupa Air, listrik, logistik, kesehatan, bahkan kantong-kantong mayat. Karenanya pemerintah Indonesia segera memberangkatkan lembaga-lembaga kemanusiaan dari Indonesia bisa memasukkan bantuan ke Palestina.” Jelas Natsir.

Saat ini bantuan-bantuan dari berbagai NGO dan komunitas sudah terkumpul, hanya saja masih menunggu diberi kesempatan kepada utusan bersama ini untuk mengirim bantuan kemanusiaan tersebut.

Sebagaimana kita ketahui bahwa perlawanan terhadap penjajahan adalah hak yang melekat pada bangsa Palestina sajak dimulainya penjajahan Israel tahun 1948. Dikuatkan dengan berbagai pelanggaran zionis Israel terhadap bangsa Palestina, mulai dari invasi harian ke Masjidil Aqsa, blokade Gaza sejak 17 tahun lalu, perampokan tanah dan pembangunan pemukiman ilegal, teror pemukim ilegak terhadap warga Tepi Barat, hak-hak pengungsi yang terabaikan, sampai penahanan administratif tanpa pengadilan.

Para pejuang Palestina ini menggunakan hak perlawanannya untuk mengakhiri pelanggaran Israel tersebut. Upaya perjuangan yang mengagetkan Israel dan dunia itu dilakukan dalam bentuk operasi Thuufanul Aqsa pada 7 Oktober 2023 lalu. Berhasil menembus tembok blokade dan bahkan membongkar mitos militer Israel yang konon tak terkalahkan.

Sikap pengecut penjajah Zionis Israel, atas kelemahan militernya justru dipertontonkan dengan menyasar rakyat sipil dengan rudalnya, membombardir rumah-rumah penduduk, dan infrastruktur publik serta menelan banyak korban jiwa.

Sampai Sabtu siang (14/10) lalu ada 724 anak-anak dan 458 perempuan Syahid, dari total 2.215 Syuhada Palestina. Sementara korban luka mencapai 8.714, 2.450 anak-anak, dan 1.536 perempuan.

Kejahatan perang terorris zionis Israel itu berlanjut dengan memblokade total warga sipil Jalur Gaza, dengan memutus pasokan listrik, sumber air, hingga bahan bakar. Berakibat rumah sakit di Gaza tidak bisa beroperasi secara maksimal, lantaran tidak ada listrik, ditambah harus menghadapi krisis pangan dan air ditengah kemarau.

Pasca Thuufanul Aqsa, penjajah Israel memaksa penduduk Jakur Gaza Utara untuk mengungsi ke Lembah Gaza Selatan dengan mengirim 300 ribu tentaranya keperbatasan Gaza. Sementara itu rakyat Gaza menolak dengan tegas, karena hal ini dianggap sebagai upaya Nakba Jilid II. Karenanya mereka memilih bertahan, tidak akan meninggalkan Tanah Airnya, meski ditengah kondisi sulit saat ini.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.