Kiswah Ka’bah, Epstein Files, dan Eksploitasi Agama oleh Para Elite

Kiswah Ka’bah, Epstein Files, dan Eksploitasi Agama oleh Para Elite
Kiswah Ka’bah, Epstein Files, dan Eksploitasi Agama oleh Para Elite/foto:forbes.com

Sejak awal, kasus Jeffrey Epstein sudah menjadi potret telanjang tentang bagaimana kejahatan seksual bisa tumbuh subur di bawah perlindungan kekuasaan. Ia memperdagangkan dan mengeksploitasi anak-anak perempuan di bawah umur, menjadikan tubuh mereka komoditas bagi jejaring elite global. Kejahatan itu tidak berlangsung sebentar, tidak pula sembunyi-sembunyi. Ia terjadi bertahun-tahun, berulang, dan sistematis, sementara negara, hukum, dan institusi yang seharusnya melindungi, justru memilih bungkam.

Selama itu pula, Epstein tidak kekurangan relasi. Ia dekat dengan tokoh politik, pengusaha besar, akademisi ternama, hingga figur publik yang dihormati. Maka, kejahatan itu tidak benar-benar dihentikan karena pelakunya berada terlalu dekat dengan pusat kekuasaan. Rasa-rasanya hukum menjadi tumpul ketika berhadapan dengan elite.

Ketika Epstein Files akhirnya dibuka ke publik, dunia kembali dihadapkan pada betapa rapih dan dinginnya sistem yang melindungi predator. Dokumen-dokumen itu memuat daftar penerbangan jet pribadi, catatan vila mewah, dan nama-nama berpengaruh yang selama ini hanya dibisikkan. Namun, di antara semua detail itu, salah satu temuan yang mengejutkan adalah bahwa potongan kain kiswah Ka’bah tercatat di dalam dokumen yang sama.

Bagi seorang muslim, kiswah bukan kain biasa. Ia adalah penutup Ka’bah yang menjadi kiblat umat Islam sedunia, pusat orientasi ibadah, dan simbol tauhid. Setiap hari, jutaan muslim menghadap ke arahnya dalam shalat, menautkan harapan, doa, dan kepasrahan kepada Allah. Kiswah melambangkan ketundukan total, pengakuan bahwa tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya, tidak ada kuasa yang melampaui hukum Allah. Karena itu, kemunculannya dalam arsip yang berkaitan dengan seorang penjahat seksual memunculkan rasa marah bagi tiap-tiap muslim yang mendengarnya.

Para Penjilat di Pusaran Kekuasaan
Dari era kerajaan hingga masa demokrasi modern, praktik menjilat -atau tindakan berlebihan dalam menunjukkan kesetiaan dan dukungan kepada pemimpin atau pejabat berkuasa.

Dokumen e-mail yang terungkap menjelaskan peristiwa itu. Tiga potongan kiswah dikirim ke Florida melalui jalur udara, diatur oleh pengusaha asal Uni Emirat Arab, Aziza Al Ahmadi, yang bekerja sama dengan Abdullah Al Maari. Rinciannya bahkan cukup detail, terdapat satu potongan berasal dari bagian dalam Ka’bah, satu potongan dari penutup luar Ka’bah yang telah digunakan, dan satu potongan lain dari bahan serupa yang belum pernah dipakai dan diklasifikasikan sebagai karya seni.

Namun, dokumen tersebut berhenti sampai di situ. Tidak dijelaskan hubungan antara Al Ahmadi dengan Epstein. Tidak juga disebutkan tujuan pengiriman kiswah itu.

Yang jauh lebih penting adalah pelajaran yang terbuka di hadapan kita. Bahwa simbol keagamaan bisa berpindah tangan tanpa membawa nilai apa pun. Ia bisa berada di ruang yang sama dengan kejahatan, tanpa otomatis menjadi penghalang moral. Artinya, simbol betapa pun sucinya bukan ukuran tertinggi dari agama.

Realitas semacam ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita di hari ini. Kita menyaksikan koruptor yang tampil religius, rajin beribadah, dan memamerkan simbol agama, tetapi kebijakannya menyengsarakan rakyat. Kita melihat pejabat yang fasih berbicara soal moral, namun diam ketika ketidakadilan terjadi di depan mata. Bahkan, tidak jarang agama dijadikan tameng dan tools untuk meredam kritik, menutup kezaliman, atau membersihkan citra. Agama sering kali direduksi menjadi penampilan luar yang jauh dari pedoman.

Allah berfirman:

اَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاۤجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ لَا يَسْتَوٗنَ عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۘ ۝١٩

Apakah kamu jadikan (orang yang melaksanakan tugas) pemberian minuman (kepada) orang yang menunaikan haji dan mengurus Masjidilharam sama dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di hadapan Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS At-Taubah: 19)

Kekuasaan Hanya Segenggam, Taburlah Kebaikan
Gunakanlah sebaik mungkin untuk mengurus rakyat dengan efektif. Taburlah kebaikan sebanyak mungkin di ladang kekuasaanmu, agar namamu langgeng dalam ingatan sejarah.

Surat At-Taubah ayat 19 berbicara dengan sangat tajam dan relevan. Ayat ini membongkar logika keliru yang menjadikan simbol dan ritual sebagai ukuran iman. Allah menegaskan bahwa memuliakan tempat suci dan simbol keagamaan tidak otomatis menempatkan seseorang di sisi Allah, jika tidak disertai iman yang hidup, keberpihakan kepada kebenaran, dan kesediaan menanggung konsekuensi moral. Ayat ini seperti menarik karpet dari bawah kaki mereka yang merasa aman hanya karena dekat dengan simbol suci.

Dengan kata lain, Al Qur’an sedang mengingatkan bahwa agama tidak diukur dari apa yang tampak, tetapi dari bagaimana ia dijalani. Bukan dari apa yang disentuh, dipakai, atau dipajang, melainkan dari keputusan, sikap, dan keberanian untuk berlaku adil meski berisiko. Pesan ini tetap relevan hingga hari ini. Jangan tertipu oleh simbol. Jangan mengira kesucian bisa diwariskan lewat benda, ritual, atau kedekatan fisik dengan hal-hal sakral.

Yang diuji Allah adalah sikap hidup apakah agama benar-benar menjadi kompas dalam menggunakan kekuasaan, mengelola harta, dan memperlakukan sesama manusia. Karena itu, Islam tidak pernah dimaksudkan berhenti pada simbol. Islam adalah minhajul hayah atau pedoman hidup. Ia hadir untuk mengatur cara manusia berpikir, bersikap, dan bertindak. Ia menuntut keadilan, amanah, dan keberpihakan kepada yang lemah. Agama yang benar justru akan terasa mengganggu bagi para pelaku kejahatan, karena ia tidak bisa dikompromikan dengan kebusukan.

Epstein Files tidak sekadar membuka arsip kejahatan seorang predator seksual. Ia membuka lapisan terdalam dari kebejatan manusia yang sudah tidak lagi terusik oleh nilai apa pun. Seorang pelaku eksploitasi anak bisa hidup bertahun-tahun di tengah kemewahan, dihormati oleh elite, dan bahkan dikelilingi simbol-simbol yang bagi banyak orang dianggap suci tanpa satu pun yang mampu menghentikannya.

Kuasa Uang dan Elite Bermental “Dubuk”
Di dalam aspek tertentu, elemen yang bisa menyatukan kalangan elite adalah uang. Uang telah berkuasa dan menguasai semua aspek kehidupan manusia, terutama para elite, dalam berbagai bidang. Kaum elite hidup mewah, kemiskinan masyarakat pun dieksploitasi.

Kebejatan itu tampak utuh ketika kita menyadari bahwa bahkan kiswah Ka’bah pun bisa terseret ke dalam lingkar hidupnya. Epstein tidak lagi mengenal makna apa pun. Segala hal apa pun nilainya bisa masuk ke ruang hidup seorang predator, tanpa membuat dia berhenti, apalagi menyesal. Ketika seseorang bisa hidup sejauh itu dari nilai, tidak ada atribut apa pun yang mampu menahannya.

Maka kesimpulannya adalah, jika dilindungi oleh kekuasaan, kebejatan bisa menelan apa saja, bisa terjadi kepada siapa pun, dan di mana pun.

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.