Miris sekaligus geram, saat melihat video balita tanpa baju, tangan terikat, dan bergeletakan di lantai. Ya, kasus kekerasan terhadap balita di tempat penitipan anak kembali viral dan mengguncang nurani publik.
Di Yogyakarta, puluhan anak diduga mengalami kekerasan fisik dan verbal di sebuah daycare. Polisi mencatat puluhan korban mengalami luka fisik dan gangguan kesehatan serius. Kasus ini mengingatkan kita semua pada peristiwa di Depok pada tahun 2024 yang lalu, seorang balita disiram air panas oleh pengasuh di tempat penitipan anak karena dianggap terlalu sering menangis.
Ironis dan tragis. Anak-anak yang seharusnya dipeluk dengan kasih sayang justru menjadi korban kekerasan di tempat yang dipercaya sebagai ruang perlindungan. Tragedi ini memaksa kita bertanya dengan jujur: sejauh mana orang tua memahami amanah besar bernama anak dalam pandangan Islam?
Dalam Islam, anak bukan sekadar tanggungan biologis. Mereka adalah amanah dari Allah SWT. Al-Qur’an mengingatkan bahwa keluarga harus dijaga dari kebinasaan, sebagaimana firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”(QS. At-Tahrim: 6)

Dalam banyak hadits Rasulullah SAW bahkan secara tegas menuntut umatnya untuk memuliakan dan kasih sayang pada anak-anak:
- Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua kami" (HR. At-Tirmidzi).
- "Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka" (HR. Ibnu Majah)
- Dalam riwayat Bukhari, Rasulullah SAW pernah mencium cucunya, Al-Hasan bin Ali. Seorang sahabat berkata, "Aku memiliki sepuluh anak, tak satu pun pernah kucium." Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi".
Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya memberi makan dan pakaian, tetapi juga memastikan keselamatan fisik, emosional, dan spiritual anak-anak mereka. Karena itu, pengasuhan bukan urusan sepele yang bisa diserahkan begitu saja tanpa kehati-hatian.
Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan pekerjaan modern, banyak orang tua memilih menitipkan anak di daycare. Dalam kondisi tertentu, hal itu mungkin menjadi kebutuhan. Islam bukan agama yang menutup mata terhadap realitas hidup. Namun pertanyaannya: apakah keputusan itu dilakukan dengan penuh tanggung jawab, atau sekadar demi kenyamanan dan efisiensi hidup orang dewasa?
Banyak orang tua hari ini begitu teliti memilih sekolah terbaik, tetapi lalai memeriksa siapa yang memegang dan merawat anak mereka setiap hari. Ada yang lebih sibuk memastikan kualitas kamera CCTV dibanding memastikan kualitas akhlak pengasuh. Padahal dalam Islam, karakter pengasuh jauh lebih penting daripada fasilitas fisik semata.

Padahal Rasulullah SAW mencontohkan kelembutan luar biasa terhadap anak-anak. Beliau mencium cucunya, bermain bersama mereka, bahkan mempersingkat shalat ketika mendengar tangisan bayi. Itu menunjukkan bahwa anak kecil harus diperlakukan dengan kasih sayang, bukan dengan kemarahan dan kekerasan.
Karena itu, orang tua perlu melakukan introspeksi mendalam. Apakah anak dititipkan karena keadaan darurat dan kebutuhan nyata? Ataukah karena anak dianggap mengganggu ritme hidup dan karier? Islam mengajarkan bahwa masa kecil anak adalah fase emas yang tidak akan terulang. Kehadiran orang tua, terutama pada usia balita, memiliki dampak psikologis dan spiritual yang sangat besar.
Namun introspeksi tidak berhenti pada orang tua. Para pengelola daycare juga harus bercermin. Tempat penitipan anak tidak boleh semata menjadi industri yang berorientasi keuntungan. Mengurus balita bukan bisnis biasa. Itu menyangkut jiwa manusia yang masih sangat rapuh.
Ketika pengasuh kehilangan empati, anak-anak berubah menjadi “beban kerja.” Tangisan dianggap gangguan. Kepolosan dianggap kerepotan. Dari situlah kekerasan sering bermula. Dalam kasus di Yogyakarta, dugaan adanya praktik sistematis pengikatan anak menunjukkan hilangnya nurani dalam pengasuhan.
Padahal dalam perspektif Islam, merawat anak adalah bagian dari ta’awun—saling tolong-menolong dalam kebaikan. Pengelola daycare semestinya memandang tugas mereka sebagai amanah besar untuk membantu lahirnya generasi umat yang sehat, aman, dan berakhlak. Mereka bukan sekadar penjaga anak, tetapi penjaga masa depan peradaban.

Negara pun tidak boleh lepas tangan. Pemerintah sebagai regulator memiliki tanggung jawab besar memastikan tempat penitipan anak benar-benar aman. Pertanyaan penting harus diajukan: apakah pengawasan berjalan serius? Apakah ada standar ketat bagi pengasuh? Apakah dilakukan pembinaan psikologis dan pendidikan pengasuhan berbasis perlindungan anak? Ataukah izin daycare hanya berhenti pada administrasi tanpa pengawasan nyata di lapangan?
Kasus-kasus kekerasan di daycare bukan pertama kali terjadi. Artinya ada kegagalan sistemik yang belum diselesaikan. Negara tidak cukup hanya bertindak setelah kasus viral. Pengawasan berkala, audit kelayakan, pelatihan pengasuh, hingga mekanisme pengaduan yang mudah diakses harus menjadi prioritas.
Lalu apa yang sebaiknya dilakukan orang tua menurut syariat Islam?
Pertama, Sebagaimana ketentuan dalam syariat Islam, orang tua kandunglah yang paling wajib mengurus anaknya. Urus lah anak sebaik mungkin di tengah kewajiban kerja yang lain. Itulah salah satu hikmah mengapa kaum perempuan tidak dituntut untuk memberi nafkah keluarga, karena mereka memiliki kewajiban kerja yang lebih agung; mendidik generasi Islam sebaik mungkin dengan penuh kasih sayang.

Kedua, jika sangat terpaksa harus ke penitipan, memilih pengasuh atau daycare harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Perhatikan akhlak, kesabaran, rekam jejak, dan lingkungan pengasuhan. Jangan mudah tergoda fasilitas mewah semata.
Ketiga, orang tua tidak boleh menyerahkan pengasuhan sepenuhnya. Anak tetap membutuhkan keterlibatan emosional ayah dan ibu. Sesibuk apa pun pekerjaan, kedekatan dengan anak tidak boleh hilang. Ingat, rumah sendiri bersama ayah dan bunda adalah tempat paling nyaman bagi balita.
Keempat, bangun budaya saling mengawasi dan peduli. Jika ada tanda kekerasan pada anak, jangan diabaikan. Luka fisik, perubahan perilaku, ketakutan berlebihan, atau trauma harus segera ditindaklanjuti.
Pada akhirnya, tragedi daycare adalah lonceng keras bagi masyarakat modern. Kita sedang hidup di zaman ketika banyak orang mengejar kenyamanan hidup, tetapi lupa bahwa anak-anak membutuhkan cinta lebih dari sekadar fasilitas.
Balita bukan barang titipan. Mereka adalah amanah Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dan setiap amanah yang diabaikan, cepat atau lambat, akan berubah menjadi bencana dan penyesalan.
Jadilah bagian dari perjuangan Sabili
Bangun Indonesia dengan Literasi!



