No Kings: Kuburan Politik Donald Trump Sedang Digali Rakyatnya Sendiri

No Kings: Kuburan Politik Donald Trump Sedang Digali Rakyatnya Sendiri
No Kings: Kuburan Politik Donald Trump Sedang Digali Rakyatnya Sendiri / Foto : The New York Times

Langkah militer Amerika Serikat (AS) dalam eskalasi konflik dengan Iran tampak lebih sebagai reaksi impulsif ketimbang keputusan strategis yang matang. Alih-alih menunjukkan kepemimpinan global yang rasional, kebijakan itu justru memberi kesan bahwa Washington terseret dalam orbit kepentingan Israel.

Di dalam konteks geopolitik yang rapuh, keputusan AS terlibat dalam eskalasi konflik dengan Iran tersebut bukan hanya berisiko memicu konflik berkepanjangan, tetapi juga membuka krisis domestik yang selama ini terpendam di tubuh demokrasi Amerika. Di saat situasi ekonomi domestik mereka belum sepenuhnya pulih dan ketimpangan sosial terus melebar, perang ke luar negeri menjadi ironi yang sulit diterima rakyat Amerika.

Kritik pun bermunculan: Untuk siapa sebenarnya perang ini dilakukan? Untuk keamanan global, atau untuk memenuhi agenda politik tertentu? Faktanya, alih-alih memperkuat posisi global, Trump justru membuka dua front krisis sekaligus; konflik eksternal yang mahal dengan Iran, dan ledakan kemarahan di dalam negeri.

Gelombang kekecewaan rakyat Amerika kini menjelma menjadi kemarahan kolektif. Jutaan warga Amerika turun ke jalan dalam demonstrasi bertajuk “No Kings”. Hal ini menjadi sebuah simbol perlawanan terhadap kepemimpinan yang dianggap semakin otoriter dan menjauh dari nilai-nilai demokrasi. Aksi ini bukan sekadar protes biasa, melainkan akumulasi dari ketidakpuasan terhadap kebijakan Donald Trump yang dinilai sembrono dan ugal-ugalan.

Rencana Trump – Netanyahu adalah Proyek Menghapuskan Perjuangan Palestina
Rencana Donald Trump untuk Palestina itu tidak menjaga martabat maupun identitas, tetapi justru menjadikan rakyat Palestina sebagai kelompok lemah tanpa kedaulatan, yang disiapkan untuk dibinasakan dalam waktu dekat.

Melansir dari laporan AFP, demonstrasi yang berlangsung tanggal 29 Maret 2026 ini setidaknya melibatkan 8 juta demonstran. Ada sekitar 3.300 acara atau titik kumpul demonstan. Tersebar di 50 negara bagian.

Merujuk laporan AFP itu, bisa disimpulkan bahwa demonstrasi bertajuk “No Kings” adalah salah satu demonstrasi terbesar dan paling massif dalam sejarah Amerika. Gerakan ini adalah akumulasi kemarahan rakyat dan memiliki potensi ledakan politik yang besar.

Tokoh-tokoh publik ikut menyuarakan perlawanan ini. Senator Amerika Serikat, Bernie Sanders, lantang mengritik dominasi kaum ultra-kaya dalam politik Donald Trump. Sementara figur publik lain semisal aktivis senior Jane Fonda dan Bruce Springsteen pun turut menyuarakan pesan moral di tengah kerumunan massa. Kehadiran mereka bukan sekadar simbolik, melainkan memperkuat legitimasi gerakan tersebut sebagai suara rakyat lintas kelas.

Yang menarik, narasi yang dibangun dalam demonstrasi ini tidak hanya soal perang, tetapi juga soal demokrasi yang dianggap sedang terancam. Para demonstran menilai penggunaan kekuasaan eksekutif oleh Trump telah melampaui batas dan menciptakan kesan kepemimpinan yang menyerupai monarki modern. Demonstran menganggap hal itu sebagai ironi di negara yang lahir dari perlawanan terhadap raja.

Organisasi Advokasi AS Gugat Trump Soal Bantuan Kemanusiaan Gaza
Center for Constitutional Rights (CCR) AS mengajukan gugatan hukum terhadap kebijakan Donald Trump memberikan dana kepada GHF. GHF adalah organisasi yang beberapa bulan terakhir menangani distribusi bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza, namun dilaporkan terlibat genosida atas warga Palestina.

Lebih jauh, isu kemanusiaan juga menjadi bahan bakar protes. Kebijakan imigrasi yang keras, intervensi militer, hingga penggunaan pajak rakyat untuk membiayai konflik luar negeri menjadi sorotan tajam. Di dalam salah satu orasi, seorang demonstran bahkan menegaskan bahwa rakyat Amerika kini “membayar perang yang bukan milik mereka, sementara kebutuhan dasar di dalam negeri terabaikan”.

Trump tampaknya gagal membaca arah angin. Ia menghadapi rakyat yang bukan hanya marah karena perang, tetapi juga karena ketimpangan ekonomi, kebijakan imigrasi yang represif, dan penggunaan pajak rakyat untuk membiayai konflik luar negeri yang tidak jelas juntrungannya. Di dalam satu suara, mereka berkata: cukup!

Pertanyaannya kini: Apakah “No Kings” hanya akan menjadi gelombang sesaat, atau justru jadi titik balik yang mengubur karir politik Donald Trump?

Jika eskalasi ini terus berlanjut, ada tiga skenario yang mungkin bisa terjadi. Pertama, adanya konsolidasi oposisi besar-besaran yang mampu meruntuhkan dominasi politik Trump di parlemen. Sebaran isu persoalan yang diusung demonstran bisa menyatukan kekuatan oposisi, baik yang ada di parlemen maupun kelompok kritis di dalam masyarakat.

Kedua, terjadi polarisasi ekstrem yang bisa memicu instabilitas sosial dan benturan horizontal. Pendukung garis keras Donald Trump juga tidak sedikit. Jika para pendukung garis keras itu digerakkan untuk melakukan counter demonstrasi, benturan massa sangat mungkin terjadi.

Ketua MUI: Terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Berarti Kegagalan AS-Israel
Mojtaba Khamenei telah resmi ditetapkan Majelis Khobregan Kepemimpinan Iran sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, pada Senin (9/3/2026) waktu setempat. Putra almarhum Ayatullah Ali Khamenei itu terpilih usai meraih lebih dari 85% suara anggota Majelis Khobregan.

Ketiga, munculnya langkah atau respons represif dari pemerintahan Donald Trump. Langkah sembrono Trump sudah berulang kali disaksikan oleh publik dunia. Bukan mustahil jika ia melakukan kekonyolan lagi dengan bertindak represif terhadap massa demonstran. Namun, jika langkah ketiga ini dilakukan oleh Trump, hal itu justru akan mempercepat delegitimasi kekuasaannya sendiri.

Akankah “No Kings” menjadi sinyal bahwa rakyat Amerika sedang menggali kuburan bagi kekuasaan politik Donald Trump?  Hanya Allah yang tahu. Simaklah dengan seksama.

"Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, dan Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah sebaik-baik pembalas tipu daya" (QS Ali Imran: 54).

Google News

Komentar Anda:

Anda telah berhasil berlangganan di Sabili.id
Selanjutnya, selesaikan pembayaran untuk akses penuh ke Sabili.id
Assalamu'alaikum! Anda telah berhasil masuk.
Anda gagal masuk. Coba lagi.
Alhamdulillah! Akun Anda telah diaktifkan sepenuhnya, kini Anda memiliki akses ke semua artikel.
Error! Stripe checkout failed.
Alhamdulillah! Your billing info is updated.
Error! Billing info update failed.